Apakah Dzariah itu ?

image

Adz-dzari’ah adalah sesuatu yang merupakan media dan jalan untuk sampai menuju ketaatan atau kemaksiatan.

Adz-dzari’ah terbagi menjadi dua, yaitu:

1. Sadd Adz-Dzari’ah. Sadd Adz-Dzari’ah adalah mencegah sesuatu perbuatan agar tidak sampai menimbulkan mafsadah (kerusakan). Penggunaan terhadap mafsadah dilakukan karena ia bersifat terlatang.

2.Fath Adz-Dzari’ah. Fath Adz-Dzari’ah adalah kebalikan dari sadd adz-dzari’ah yaitu, mengamjurkan media/jalan yang menyampaikan sesuatu yang dapat menimbulkan maslahah (kemanfaatan/kebaikan), jika ia menghasilkan kebaikan. Penggunaan media ini harus didorong dan dianjurkan, karena menghasilkan kemaslahatan adalah sesuatu yang diperintahkan dalam Islam.

Sebagai objek hukum syara’, perbuatan yang merupakan adz-dzari’ah berperan sebagai jalan/media/perantara untuk mencapai tujuan hukum, dapat diberi predikat salah satu dari hukum taklifi yang lima, yaitu: wajib, sunnah,mubah, makruh, dan haram. Dengan kata lain, suatu perbuatan yang menjadi media menghasilkan kemaslahatan, diperbolehkan. Sedangkan media yang menimbulkan mafsadah, dilarang.

image

Metode Penentuan hukum adz-Dzari’ah

Predikat-predikat hukum syara’ yang dilekatkan kepada perbuatan yang bersifat adz-dzariah dapat ditinjau dari dua segi, yaitu:

Dari segi al-Baits (motif pelaku)

Al-Baits adalah motif yang mendorong pelaku untuk melakukan suatu perbuatan, baik motifnya menimbulkan sesuatu yang dibenarkan, maupun yang dilarang.

Pada umumnya, motif pelaku suatu perbuatan sangat sulit diketahui oleh orang lain, karena berada dalam hati orang yang bersangkutan. Oleh karena itu, penilaian hukum segi ini bersifat diyanah (dikaitkan dengan dosa atau pahala yang akan diterima pelaku di akhirat). Pada dzari’ah, semata-mata pertimbangan niat pelaku saja, tidak dapat dijadikan dasar untuk memberikan ketentuan hukum batalnya suatu transaksi.

Jika dengan tinjauan dzari’ah yang pertama, hanya mengakibatkan dosa atau pahala bagi pelakunya.

Dari segi Maslahah dan Mafsadah yang ditimbulkan

Jika dampak yang ditimbulkan oleh rentetan suatu perbuatan adalah kemaslahatan, maka perbuatan tersebut diperintahkan, sesuai dengan kadar kemaslahatannya (wajib atausunnah). Sebaliknya, Jika dampak yang ditimbulkan oleh rentetan perbuatan tersebut adalah kerusakan, maka perbuatan tersebut dilarang, sesuai dengan kadarnya pula (haramatau makruh).

Jika dengan tinjauan dzari’ah yang kedua, perbuatan dzari’ah melahirkan ketentuan hukum yang bersifat qadha’i, dimana hakim pengadilan dapat menjatuhkan hukum sah atau batalnya perbuatan tersebut, bahkan menimbulkan hukum boleh atau terlarangnya perbuatan tersebut, tergantung pada apakah perbuatan dzari’ah tersebut menimbulkan maslahah atau mafsadah, tanpa mempertimbangkan apakah motif pelaku untuk melakukan kebaikan atau kerusakan.

Kedudukan adz-Dzari’ah dalam Syari’ah

Imam Malik dan Ahmad bin Hanbalmenjadikan dzari’ah sebagai dalil hukum syara’. Sedangkan Imam Syafi’i dan Abu Hanifah terkadang menjadikannya menjadi dalil, tetapi pada waktu yang lain menolaknya sebagai dalil. Selanjutnya, ulama Syi’ah juga menggunakan sadd adz-dzari’ah. Akan tetapi,Ibnu Hazm Azh-Zhahiri sama sekali menolak adz-dzari’ah sebagai dalil syara’ (hujjah).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s