Apakah dan Siapakah Kafir Itu ?

image

Kāfir dalam syariat Islam adalah diartikan sesuai etimologi sebagai “orang yang menutupi kebenaran risalah Islam”. Istilah ini mengacu kepada orang yang menolak Allah, atau orang yang bersembunyi, menolak atau menutup dari kebenaran akan agama Islam. Perbuatan menyatakan seseorang kafir disebut takfir.

Kata kāfir memiliki akar kata K-F-R yang berasal dari kata kufur yang berarti menutup. Pada zaman sebelum datangnya Agama Islam, istilah tersebut digunakan untuk para petani yang sedang menanam benih di ladang, kemudian menutup (mengubur) dengan tanah. Sehingga kalimat kāfir bisa dimplikasikan menjadi “seseorang yang bersembunyi atau menutup diri”. Dengan demikian kata kafir menyiratkan arti seseorang yang bersembunyi atau menutup diri.

Jadi menurut syariat Islam, manusia kāfir yaitu: seorang yang mengingkari Allah sebagai satu-satunya yang berhak disembah dan mengingkari Rasul Muhammad sebagai utusan-Nya.

Penggolongan kafir

Al-Muharibin Al-Muharibin adalah orang kafir harbi di mana mencakup seluruh orang musyrik dan ahli kitab yang boleh diperangi atau semua orang kafir yang menampakkan permusuhan dan menyerang kaum Muslimin. Menurut seorang ulama era kontemporer kafir harbi tidak mempunyai hak untuk mendapatkan perlindungan dan pemeliharaan dari kaum Muslimin. Mereka adalah kaum yang pernah diperangi oleh Muhammad. Golongan ini boleh diperangi, apabila mereka telah menampakkan atau menyatakan perang terhadap kaum Muslim terlebih dahulu.

Adz-Dzimmah. Orang kafir yang membayar jizyah (pajak) yang dipungut tiap tahun sebagai imbalan bolehnya mereka tinggal di negeri kaum muslimin. Golongan inilah yang paling banyak memiliki hak atas kaum Muslimin dibandingkan dengan golongan selainnya. Karena mereka hidup di negara Islam, dan di bawah perlindungan, dan penjagaan kaum Muslimin dengan sebab jizyah yang mereka telah bayarkan.

Al-Mu’ahad. Orang kafir yang memiliki kesepakatan (perjanjian) damai dengan kaum muslimin untuk tidak berperang dalam kurun waktu yang telah disepakati. Mereka berhak mendapatkan pelaksanaan perjanjian dari kita dalam waktu yang sudah disepakati, selama mereka tetap berpegang pada janji mereka tanpa menyalahinya sedikitpun, tidak membantu musuh yang menyerang kita serta tidak mencela agama Islam. “Kecuali orang-orang musyirikin yang kamu mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatupun (dari isi perjanjian)mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa. (At-Taubah 9:4).”Al-Musta’man. orang kafir yang mendapat jaminan perlindungan keamanan dari kaum muslimin atau sebagian kaum muslimin.

Hukum memerangi kafir Dari kesemua jenis-jenis di atas hanya satu yang boleh diperangi yaitu kafir harbi, sedangkan untuk mu’ahad, dzimmah dan musta’man itu haram untuk diperangi. Kemudian jika di antara muslim ada yang membunuh kafir itu tanpa ada alasan yang benar maka ancaman untuknya adalah neraka. Jika kafir mu’ahad telah melanggar perjanjian maka dibolehkan untuk memerangi mereka, karena mereka telah melanggar kesepakatan. Adapun membunuh orang kafir yang berada dalam perjanjian dengan kaum muslimin secara tidak sengaja, Allah telah mewajibkan adanya diat dan kafaroh sebagaimana firman-Nya, “…dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Barang siapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara tobat kepada Allah, dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (An Nisaa’: 92).”

Kata kāfir dalam Al-Qur’an Di dalam Al-Qur’an, kitab suci agama Islam, kata kafir dan variasinya digunakan dalam beberapa penggunaan yang berbeda:
1. Kufur at-tauhid (Menolak tauhid): Dialamatkan kepada mereka yang menolak bahwa Tuhan itu satu.Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. (Al-Baqarah ayat 6)

2. Kufur al-ni`mah (mengingkari nikmat): Dialamatkan kepada mereka yang tidak mau bersyukur kepada TuhanKarena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku (la takfurun). (Al-Baqarah ayat 152)

3. Kufur at-tabarri (melepaskan diri). Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dan daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu (kafarna bikum)…” (Al-Mumtahanah ayat 4

4. Kufur al-juhud (Mengingkari sesuatu). maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar (kafaru) kepadanya. (Al-Baqarah ayat 89)

Kufur at-taghtiyah (menanam/mengubur sesuatu). . Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani (kuffar). (Al-Hadid 20)

Jenis Kafir Berdasarkan Makna
. Berdasarkan makna bahasa dan beragam makna kafir dalam ayat al-Quran, Kafir terbagi menjadi beberapa golongan, antara lain:

1.   Kafir ’inad, . yaitu kafir yang mengenal Allah SWT dengan hati dan mengakui-Nya dengan lidah, tetapi tidak mau menjadikannya sebagai suatu keyakinan karena ada rasa permusuhan, dengki, dan semacamnya. Dalam al-Quran mereka digambarkan seperti orang-orang yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Allah, mendurhakai rasul-rasul Allah SWT, dan menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang menentang kebenaran (QS. Hud [11]: 59).

2.    Kafir inkar, yaitu kafir yang mengingkari Allah SWT secara lahir dan batin, rasul-rasul-Nya serta ajaran yang dibawanya, dan hari kemudian. Mereka menolak hal-hal yang bersifat ghaib dan mengingkari eksistensi Allah SWT sebagi pencipta, pemelihara dan pengatur alam ini. Mereka seperti penganut atheisme. (QS. Al-Baqarah [2]: 212 dan An-Nahl [16]: 107).

3.    Kafir kitabi, . mempunyai ciri khas tersendiri dibanding dengan kafir-kafir yang lain, karena kafir kitabi ini meyakini beberapa kepercayaan pokok yang dianut Islam. Akan tetapi kepercayaan mereka tidak utuh, cacat, dan parsial. Mereka membuat diskriminasi terhadap rasul-rasul Allah dan kitab-kitab suci-Nya, terutama terhadap Nabi Muhammad dan Al-Quran. Dalam al-Quran mereka disebut sebagai ahlul kitab, mereka adalah orang-orang yahudi dan nasrani. (Lihat QS 02: 105, 109; QS 03: 64, 65, 69, 70, 71, 72, 75, 98, 99, 110, 113, 199; QS 04: 153, 159, 171; QS 05: 15, 19, 59, 65, 68, 77; QS 29: 46; QS 33: 26; QS 57: 29; QS 59: 2, 11; QS 98: 1, 6) 

Jenis-jenis Kafir Berdasarkan Perlakuan  
1. Kafir Harbi, yaitu mereka yang memerangi kaum muslimin.. “Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir di medan perang, pancunglah batang leher mereka. Apabila kamu telah mengalahkan mereka, tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka, tetapi Allah hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.” (QS. Muhammad [47]: 4)

2. Kafir Dzimmi, yaitu mereka yang memberikan jizyah kepada pemimpin kaum muslimin. “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (QS. At Taubah [9]: 29)

3. Kafir Mu’ahid, yaitu mereka yang terikat perjanjian untuk jangka waktu tertentu. “Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.” (QS. Al-Anfal [8]: 58). Sabda Rasulullah SAW,”Barangsiapa yang membunuh seorang muahid maka tidak akan mencium bau surga…” (HR. Bukhori).

4.  Kafir Musta’min, yaitu mereka yang diberikan perlindungan keamanan oleh seorang muslim. “Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (QS. At-Taubah [9]: 6)

Di dalam kitab “al Mausu’ah al Fiqhiyah” disebutkan bahwa ahli dzimmah atau dzimmiyyun menurut istilah para fuqaha dinisbahkan kepada dzimmah yang berarti perjanjian dari imam atau orang-orang yang mewakilinya untuk mendapatkan keamanan baik diri maupun hartanya dengan keharusan baginya beriltizam (komitmen) dalam membayarkan jizyah dan menerapkan hukum-hukum Islam.

Seorang non muslim bisa disebut dengan kafir dzimmiy karena empat hal:

1. Akad Dzimmah, yaitu orang-orang kafir diperbolehkan menampakkan kekafiran dengan syarat memberikan jizyah dan berkomitmen dengan hukum-hukum Islam di dalam urusan duniawi. Alasan tidak diperanginya orang-orang kafir dzimmiy adalah karena adanya kemungkinan mereka masuk Islam melalui interaksi dengan kaum muslimin dan setelah merasakan berbagai kebaikan Islam. Jumhur fuqaha mensyaratkan bahwa akad ini berlangsung selamanya.

2.    Karena adanya berbagai bukti. Ada tiga hal yang dapat dijadikan sebagai bukti.
* Pertama, menetap di Daarul Islam, karena pada dasarnya seorang non muslim yang bukan ahli dzimmah tidak diperbolehkan menetap selamanya di Daarul Islam akan tetapi mereka diperbolehkan menetap di Daarul Islam untuk waktu yang terbatas, sehingga mereka ini dinamakan Musta’min. Jumhur fuqaha dari kalangan Hanafi, Syafi’i, dan Hambali berpendapat bahwa seorang musta’min tidaklah diperbolehkan menetap di Daarul Islam kurang dari satu tahun. Jika orang itu ingin menetap di sana selama setahun penuh atau lebih maka dirinya harus memberikan jizyah sehingga dia menjadi seorang dzimmiy. Lamanya seorang non muslim tinggal di Daarul Islam menjadi bukti bahwa dirinya ridho untuk menetap selamanya dan menerima berbagai persyaratan ahli dzimmah. 

* Kedua, pernikahan seorang wanita dari kafir harbi dengan seorang lelaki muslim atau seorang dzimmiy dikarenakan seorang istri mengikuti suaminya. 

* Ketiga, apabila seorang musta’min membeli tanah yang terkena atasnya pajak di Daarul Islam lalu orang itu menanaminya kemudian ditetapkan atasnya pajak maka orang itu praktis menjadi seorang dzimmiy.

3. Karena dirinya terbawa (subordinat), seperti : seorang anak kecil menjadi ahli dzimmah karena terbawa orang tuanya yang ahli dzimmah atau seorang anak yang ditemukan di suatu perkampungan atau daerah gereja ahli dzimmah maka anak itu dianggap sebagai seorang dzimmiy.

4.  Karena pembebasan suatu negeri. Hal ini terjadi bila kaum muslimin membebaskan negeri-negeri non muslim kemudian Imam membiarkan para penduduknya bebas dengan dzimmah (perjanjian) dan membayarkan jizyah sebagaimana dilakukan Umar bin Khottob terhadap para penduduk Iraq. (disarikan dari al Mausu’ah al Fiqhiyah juz II hal 2488 – 2495)

Orang-orang kafir di Indonesia tidak dikategorikan sebagai ahlu dzimmah atau mu’ahid karena pembagian macam-macam orang kafir di atas terjadi di dalam suatu tempat yang dinamakan Daarul Islam yaitu suatu negeri yang di dalamnya diterapkan hukum-hukum Islam, diperintah oleh pemerintahan Islam, serta memberikan perlindungan dan kekuatan bagi kaum muslimin yang sifat-sifat ini tidak ada di Indonesia. Orang-orang kafir di Indonesia bisa kita golongkan ke dalam kafir musta’min, karena mereka diberikan jaminan perlindungan keamanan oleh kaum muslimin di Indonesia.

www.islamislami.com

Provided By: WWW.ISLAMISLAMI.COM The Truth Islamic Religion. The only religion in the sight of God is Islam” “If anyone desires a religion other than Islam, never will it be accepted of him; and in the Hereafter, he will be in the ranks of those who have lost (their selves in the Hellfire). Editor in Chief : Audi Yudhasmara, Associate Editors: Sandiaz Yudhasmara Senior Advisory Editor: Dr Widodo Judarwanto, pediatrician, Dr Narulita Dewi SpKFR, email : audiyudhasmara@yahoo.com Phone: 021-29614252 Mobile Phone 08992355752 PIN BBM 7413A117 Komunikasi dan Konsultasi online www.facebook.com/mediaindonesiasehat *** Indonesia Medical Student – Facebook *** Mahasiswa Kedokteran Indonesia – Facebook twitter: @audiyudhasmara facebook: www.facebook.com/Audi.Yudhasmara
Copyright © 2016, WWW.ISLAMISLAMI.COM The Truth Islamic Religion Network Information Education Network. All rights reserved
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s