I’tikaf Keutamaan dan Tata Caranya

wp-1526250343376..jpg

I’tikaf adalah berdiam diri di dalam masjid dalam rangka untuk mencari keridhaan Allah SWT dan bermuhasabah (introspeksi) atas perbuatan-perbuatannya. Orang yang sedang beriktikaf disebut juga mutakif.

Jenis-jenis iktikaf

Iktikaf yang disyariatkan ada dua macam: iktikaf sunat dan wajib.

  • Iktikaf sunnat adalah iktikaf yang dilakukan secara sukarela semata-mata untuk mendekatkan diri dan mengharapkan ridha Allah SWT seperti; iktikaf 10 hari terakhir pada bulan Ramadan.
  • Iktikaf wajib adalah iktikaf yang dikarenakan bernazar (janji), seperti: “Kalau Allah SWT menyembuhkan penyakitku ini, maka aku akan beriktikaf.

Waktu iktikaf

  • Iktikaf wajib tergantung pada berapa lama waktu yang dinazarkan
  • Iktikaf sunat tidak ada batasan waktu tertentu, kapan saja pada malam atau siang hari, waktunya boleh lama atau singkat.
  • Ya’la bin Umayyah berkata: “Sesungguhnya aku berdiam satu jam di masjid tak lain hanya untuk beriktikaf.”

Syarat-syarat iktikaf Orang yang beri’tikaf harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

  • Muslim
  • Niat
  • Baligh/Berakal
  • Suci dari hadats (junub), haid dan nifas
  • Dilakukan di dalam masjid

Oleh karena itu, iktikaf tidak sah bagi orang yang bukan muslim, anak-anak yang belum dewasa, orang yang terganggu kewarasannya, orang yang dalam keadaan junub, wanita dalam masa haid dan nifas.

Rukun-rukun iktikaf

  • Niat Berdiam di masjid (QS. Al Baqarah : 187)
  • Di sini ada dua pendapat ulama tentang masjid tempat iktikaf. Sebahagian ulama membolehkan iktikaf di setiap masjid yang digunakan untuk salat berjamaah lima waktu.
  • Hal itu dalam rangka menghindari seringnya keluar masjid dan untuk menjaga pelaksanaan salat jamaah setiap waktu.
  • Ulama lain mensyaratkan agar iktikaf itu dilaksanakan di masjid yang digunakan untuk membuat salat Jumat, sehingga orang yang beriktikaf tidak perlu meninggalkan tempat iktikafnya menuju masjid lain untuk salat Jumat.
    Pendapat ini dikuatkan oleh para ulama Syafi’iyah bahwa yang utama yaitu iktikaf di masjid jami’, kerana Rasulullah saw iktikaf di masjid jami’. Lebih utama di tiga masjid;Masjid al-Haram, Masjid Nabawi dan Masjid Al-Aqsa.

Hal-hal yang diperbolehkan bagi mutakif (orang yang beriktikaf)

  • Keluar dari tempat iktikaf untuk mengantar istri, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw terhadap istrinya Sofiyah ra. (HR. Riwayat Bukhari dan Muslim)
  • Menyisir atau mencukur rambut, memotong kuku, membersihkan tubuh dari kotoran dan bau badan.
  • Keluar untuk keperluan yang harus dipenuhi, seperti membuang air besar dan kecil, makan, minum (jika tidak ada yang mengantarkannya), dan segala sesuatu yang tidak mungkin dilakukan di masjid, tetapi ia harus segera kembali setelah menyelesaikan keperluannya .
  • Makan, minum, dan tidur di masjid dengan senantiasa menjaga kesucian dan kebersihan masjid.menemui tamu di masjid untuk hal-hal yang diperbolehkan dalam agama

Perkara Yang Membatalkan I’tikaf

  • Murtad. Menurut Al-Kubaisi i’tikaf akan menjadi batal karena murtad. Sebab, i’tikaf merupakan salah satu bentuk ibadah yang dilakukan seorang Muslim, sedangkan orang kafir bukan termasuk ahli ibadah. Allah SWT berfirman: ‘’… Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalanmu, dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.’’ (QS Az-Zumar: 65). Menurut Al-Kubaisi, bila orang yang murtad itu kembali memeluk Islam, maka tak ada kewajiban untuk mengqadha i’tikafnya, sebagai kemudahan baginya agar lebih tertarik kepada Islam. ‘’Itulah pendapat mazhab Hanafi dan Maliki,’’ ujarnya. Mazhab Syafi’i dan Hambali memiliki pendapat yang berbeda. Bila i’tikaf yang dilakukannya adalah i’tikaf nazar, lalu orang tersebut murtad di antara waktu i’tikaf itu, maka batallah i’tikafnya. Namun, jika kembali masuk Islam, maka wajib mengqadhanya. Mazhab Hambali berpendapat, i’tikaf seseorang mejadi batal jika orang tersebut murtad. Namun, jika kembali masuk Islam makaharus memulai i’tikaf dari pertama lagi dengan niat dan i’tikaf yang baru.
  • Bersetubuh. Para ulama sepakat bahwa bersetubuh dengan sengaja termasuk larangan bagi bagi orang yang sedang i’tikaf. Jika orang yang i’tikaf bersetubuh maka batallah i’tikafnya. ‘’Baik perbuatan (bersetubuh) itu dilakukan di dalam ataupun di luar masjid, baik dilakukan pada siang maupun malam hari,’’ tutur Al-Kubaisi. Hal itu sesuai dengan firman Allah SWT: ‘’… dan janganlah kamu campuri mereka (istri-istri), sedang kamu ber i’tikaf dalam masjid..’’ (QS Al-baqarah [2]: 187). Menurut Al-Kubaisi, jika melihat asbabul nuzulnya, ayat tersebut merupakan teguran Allah bagi mereka yang sedang i’tikaf, tapi masih suka keluar masjid dan menggauli istrinya.
  • Haid. Seluruh ulama mazhab bersepakat bahwa haid membatalkan i’tikaf. Seorang wanita yang sedang i’tikaf di dalam masjid lalu mengalami haid, maka harus keluar dari masjid. Kemudian menetap di rumahnya hingga haidnya selesai. ‘’Setelah itu bisa kembali ke masjid dan melanjutkan i’tikafnya,’’ papar Al-Kubaisi. Batalnya i’tikaf karena haid disebabkan haid adalah salah satu penyebab dilarangnya seseorang mentap di dalam masjid. Hal itu didasarkan pada hadis Rasulullah SAW, ‘’Tidaklah masjid itu dihalalkan bagi wanita yang haid, dan tidak pula bagi yang dalam keadaan junub.’’ Meski begitu ada pula yang berpendapat berbeda. Ahli zhaahir (mereka yang tak sepakat dengan mayoritas ulama) menyatakan wanita haid boleh memasuki masjid dan menetap di dalamnya hingga menyelesaikan masa i’tikafnya. Menurut pandangan mereka haid bukan penyebab batalnya i’tikaf.
  • Keluar dari tempat i’tikaf. Para ulama sepakat bahwa orang yang beranjak dari tempat i’tikaf dan keluar dari tempat i’tikaf bukan karena sebab-sebab darurat, maka batallah i’tikafnya.
  • Meninggalkan masjid dengan sengaja tanpa keperluan yang dikecualikan walaupun sebentar.
  • Hilangnya akal, karena gila atau mabuk
  • Pergi salat Jumat (bagi mereka yang membolehkan iktikaf di surau yang tidak digunakan untuk salat Jumat).

1525940150847-4.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s