Kontroversi Islam Nusantara Menurut Berbagai Tokoh Islam

Pemunculan istilah Islam Nusantara  yang diagung agungkan sebagai ciri khas Islam di Indonesia yang mengedepankan nilai-nilai toleransi dan bertolak belakang dengan ‘Islam Arab’ telah menimbulkan pro dan kontra di kalangan penganut Islam di Indonesia. Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj akan terus mempertahankan karakter Islam Nusantara yaitu “Islam yang ramah, anti radikal, inklusif dan toleran.” Islam Nusantara ini didakwahkan merangkul budaya, melestarikan budaya, menghormati budaya, tidak malah memberangus budaya. Bahkan Jokowipun ikut berkomentar “Islam kita adalah Islam Nusantara, Islam yang penuh sopan santun, Islam yang penuh tata krama, itulah Islam Nusantara, Islam yang penuh toleransi,”. Upaya mulia para penggagas Islam Nusantara itu tidak disadari seperti dunia Barat memberikan  label bahwa Islam teroris. Secara tidak langsung para pemimpin negeri khususnya Said Aqil Siradj dan Jokowi secara tidak langsung menyiratkan bahwa Islam selama ini tidak  sopan santun, tidak tata krama, tidak  toleransi, islam tidak ramah, Islam radikal, tidak inklusif  dan tidak toleran. Islam tidak merangkul budaya, melestarikan budaya, menghormati budaya dan malah memberangus budaya. Seharusnya Pendukung Islam Nusantara bukan malah merendahkan ajaran Islam dan memecah belah umat Islam di Indonesia. Seharusnya pemimpin negeri ini malahan harus segera menyerukan kembali ke ajaran Quran dan Hadist yang dijamin tidak radikal,  penuh sopan santun, penuh tata krama, penuh toleransi, ramah, tidak inklusif , toleran, merangkul budaya bahkan melestarikan budaya.

Pendukung Islam Nusantara

  • Walaupun dianggap bukan istilah baru, istilah Islam Nusantara belakangan telah dikampanyekan secara gencar oleh ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama, NU.Ketika awal mula dikampanyekan, muncul dukungan terhadap model Islam Nusantara yang disuarakan kelompok atau tokoh perorangan Islam yang berpaham moderat.
  • Dalam pembukaan acara Istighotsah menyambut Ramadhan dan pembukaan munas alim ulama NU, Minggu (14/06) di Masjid Istiqlal, Jakarta, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj mengatakan, NU akan terus memperjuangkan dan mengawal model Islam Nusantara. “Yang paling berkewajiban mengawal Islam Nusantara adalah NU,” kata Said Aqil, yang dibalas tepuk tangan ribuan anggota NU yang memadati ruangan dalam Masjid Istiqlal. Menurutnya, istilah Islam Nusantara merujuk pada fakta sejarah penyebaran Islam di wilayah Nusantara yang disebutnya “dengan cara pendekatan budaya, tidak dengan doktrin yang kaku dan keras.” “Islam Nusantara ini didakwahkan merangkul budaya, melestarikan budaya, menghormati budaya, tidak malah memberangus budaya,”  Dari pijakan sejarah itulah, menurutnya, NU akan terus mempertahankan karakter Islam Nusantara yaitu “Islam yang ramah, anti radikal, inklusif dan toleran.” Islam Nusantara ini didakwahkan merangkul budaya, melestarikan budaya, menghormati budaya, tidak malah memberangus budaya. Said Aqil menegaskan, model seperti ini berbeda dengan apa yang disebutnya sebagai “Islam Arab yang selalu konflik dengan sesama Islam dan perang saudara.”
  • Jokowipun ikut dukung Islam Nusantara. Presiden Joko Widodo saat berpidato dalam membuka Munas alim ulama NU di Masjid Istiqlal, Minggu (14/06), menyatakan dukungannya secara terbuka atas model Islam Nusantara.”Islam kita adalah Islam Nusantara, Islam yang penuh sopan santun, Islam yang penuh tata krama, itulah Islam Nusantara, Islam yang penuh toleransi,” kata Presiden Jokowi. Selain Presiden Jokowi, suara senada sebelumnya juga disuarakan sejumlah pejabat Indonesia lainnya, termasuk Presiden Jusuf Kalla yang lebih sering memakai istilah Islam Indonesia.
  • Sebaliknya, pemikir Islam Azyumardi Azra mengatakan model Islam Nusantara atau Islam Nusantara dibutuhkan oleh masyarakat dunia saat ini, karena ciri khasnya mengedepankan “jalan tengah”. Sektarian di Indonesia itu jauh, jauh lebih kurang dibandingkan dengan sektarianisme yang mengakibatkan kekerasan terus-menerus di negara-negara Arab. Azyumardi Azra, pemikir Islam “Karena bersifat tawasut (moderat), jalan tengah, tidak ekstrim kanan dan kiri, selalu seimbang, inklusif, toleran dan bisa hidup berdampingan secara damai dengan penganut agama lain, serta bisa menerima demokrasi dengan baik,” kata Azyumardi Azra. Menurutnya, memang ada perbedaan antara Islam Indonesia dengan ‘Islam Timur Tengah’ dalam realisasi sosio-kultural-politik. “Sektarian di Indonesia itu jauh, jauh lebih kurang dibandingkan dengan sektarianisme yang mengakibatkan kekerasan terus-menerus di negara-negara Arab,” jelasnya. Dimintai komentar atas pernyataan yang menyebut Islam itu tunggal, Azyumardi menyebutnya sebagai “pemikiran normatif yang melihat Islam secara idealistis.” “(Mereka) tidak melihat kenyataannya, bagaimana Islam itu menjadi berbeda-beda, terutama aspek sosial budaya dan politiknya. Bahkan dalam tingkat agama juga berbeda-beda.” Berbeda dengan ‘Islam Arab’ Doktor lulusan Columbia University, Amerika Serikat, ini juga menyebut cara pandang “normatif dan idealistis atas Islam” itu sebagai “tidak historis”. “Kalau kita lihat dari dulu hingga sekarang, memang ada perbedaan-perbedaan yang tidak bisa kita hindari. Lebih lanjut Azyumardi menjelaskan, model Islam Nusantara itu bisa dilacak dari sejarah kedatangan ajaran Islam ke wilayah Nusantara yang disebutnya melalui proses vernakularisasi. “Vernakularisasi itu adalah pembahasaan kata-kata atau konsep kunci dari Bahasa Arab ke bahasa lokal di Nusantara, yaitu bahasa Melayu, Jawa, Sunda dan tentu saja bahasa Indonesia,” katanya. Kemudian proses ini diikuti pribumisasi (indigenisasi), sehingga menurutnya, Islam menjadi embedded (tertanam) dalam budaya Indonesia. “Jadi, tidak lagi menjadi sesuatu yang asing. Karena itu, dalam penampilan budayanya, Islam Indonesia jauh berbeda dengan Islam Arab… Telah terjadi proses akulturasi, proses adopsi budaya-budaya lokal, sehingga kemudian terjadi Islam embedded di Indonesia,” jelas mantan Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Kontroversi. Tetapi secara hampir bersamaan lahir pula kritikan dan penolakan terhadap istilah Islam Nusantara, yang diwarnai perdebatan keras terutama melalui media sosial atau dalam diskusi terbuka. Secara garis besar, penolakan pada istilah Islam Nusantara karena istilah itu seolah-olah mencerminkan bahwa ajaran Islam itu tidak tunggal.

  • ” Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-nya dan mereka menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu (muhammad) terhadap mereka. Sesungguh-nya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah SWT, Selanjutnya Allah SWT akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.”}. Menurut Zakir Naik Islam  terpecah-belah dan membuat group sendiri-sendiri dalam Islam hukumnya HARAM !
  • KH. Hasyim Muzadi mantan Ketua umum PBNU, Ia memberikan tanggapannya bahwa istilah yang seharusnya dipakai itu bukan ‘Islam Nusantara’, tapi yang dipakai adalah “Islam Rahmatan Lil-Alamin” sebab hal ini ada dalam Al-Quranul Karim.
  • Hizbut Tahrir mempertanyakan. Organisasi Hizbut Tahrir Indonesia juga mempertanyakan sikap yang memperhadapkan konsep Islam Nusantara dengan Islam di Timur Tengah yang dianggap tidak tepat. Resolusi Jihadnya Hasyim Ashari (pendiri NU) di tahun 1945, 1949,itu ‘kan beliau mendapat inspirasi resolusi Jihad ‘kan dari Islam. Dan beliau mengkajinya dari sumber Timur Tengah. Juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia, Ismail Yusanto. “Agak kurang fair kalau membandingkan Timur Tengah sekarang dengan Indonesia pada tahun 2015,” kata Juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia, Ismail Yusanto kepada BBC Indonesia, Minggu (14/06) malam. Menurutnya, yang terjadi saat ini di sejumlah negara di wilayah Timur Tengah, misalnya Suriah, adalah proses perlawanan melawan penguasa lalim. “Ini minus persoalan ISIS yang mencoreng peradaban Islam, spirit perubahan dan perlawanan Islam itu ada di Timur Tengah saat ini. Ingat fenomena Arab Spring,” jelasnya. Dia juga menyebut tidak ada perbedaan antara Islam di Indonesia dan Timur Tengah dalam kerangka “melawan penguasa diktator”. “Resolusi Jihadnya Hasyim Ashari (pendiri NU) di tahun 1945, 1949,itu ‘kan beliau mendapat inspirasi resolusi Jihad ‘kan dari Islam. Dan beliau mengkajinya dari sumber Timur Tengah,” kata Ismail.
  • Ulama kharismatik asal Cirebon, Buya Yahya memberikan pandangannya soal Islam Nusantara yang sedang marak dibicarakan saat ini.  Seperti dikutip dari Suara Islam Online, Buya mengatakan bahwa secara istilah Islam Nusantara sebenarnya tidak masalah, akan tetapi saat ini sedang digunakan sebagian orang untuk tujuan jahat, katanya saat ditemui di di Masjid Raya Bogor, Rabu (9/9). “Islam Nusantara yang dibangun oleh Walisongo dengan penuh kelembutan keindahan, dan Walisongo yang manhajnya kembali kepada ulama Hadromaut itu jelas indah bukan ekstrim. Cuma istilah ini sedang digunakan orang liberal, jadi ini penjahatnya,” kata Buya. Menurutnya, kalau Islam di Indonesia atau Islam di Nusantara maksudnya Islam disebarkan di Nusantara bukan berarti tidak mau dengan Arab. “Tapi manusia liberal ini memfitnah menggunakan istilah ini untuk memasukkan macam-macam yang ngaco itu,” ujar Buya. Kalau seandainya tidak ada liberalisme, tidak ada orang-orang liberal kita mengucapkan Islam Nusantara memang indah, lanjutnya. Sederhananya, menurut pengasuh lembaga dakwah Al Bahjah ini, Islam Nusantara itu ada dua makna. “Kalau menurut orang yang paham syariat itu maknanya kelembutan tapi kalau dimaknai orang-orang liberal itu jadi beda,” jelas Buya. Ia mencontohkan seperti halnya ajaran yahudi versi Nabi Musa. “Saya terima agama yahudi tetapi yahudi yang dulu sebelum ada perubahan. Jadi, kita bicaranya yahudi sesuai agamanya Nabi Musa Alaihissalam tetapi orang liberal bicaranya yahudi yang hari ini sehingga harus diterima agamanya, persis seperti itulah Islam Nusantara,” ungkapnya.  Karena itu, menurut Buya, semuanya harus jelas, karena ada sebagian masyaikh yang menerima Islam Nusantara atas dasar defisini tadi seperti halnya orang Islam menerima yahudi versi Nabi Musa. “Kita tidak menerima ajaran yahudi sekarang yang sudah rusak, tapi orang batil ini, orang liberal ini mendefinisikan Islam Nusantara itu Islam yang jauh dari Arab, tidak ada cadar, tidak ada menutup aurat, nanti bisa jadi ada Islam eropa pakai bikini,” tandasnya. “Maka lebih bijak tidak menggunakan istilah Islam Nusantara itu karena banyak penjahatnya,” tegas Buya.
  • Konsepnya belum jelas,. Hal ini bisa dilihat dari definisi saja terdapat sejumlah definisi yang berbeda tentang “Islam Nusantara”. Setidaknya ada tiga definisi yang penulis temukan terkait dengan wacana “Islam Nusantara ini. Definisi pertama datang dari itu Guru Besar Sejarah Kebudayaan Islam UIN Syarif Hidayatullah Azyumardi Azra. Ia mendefinisikan “Islam Nusantara adalah Islam distingtif sebagai hasil interaksi, kontekstualisasi, indigenisasi dan vernakularisasi Islam universal dengan realitas sosial, budaya dan agama di Indonesia” Definisi lain dikemukakan Katib Syuriah PBNU yang juga pengajar di Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Asembagus Situbondo K.H. Afifuddin Muhajir mendefinsikan “Islam Nusantara” sebagai “faham dan praktik keislaman di bumi Nusantara sebagai hasil dialektika antara teks syariat dengan realita dan budaya setempat”, Sedangkan Intelektual muda NU yang produktif menulis Ahmad Baso menyumbangkan definisi ketiga “Islam Nusantara”. Menurutnya “Islam Nusantara” adalah “ma’rifatul ulama-i-l-Indonesiyyin bil-ahkami-sy-syar’iyyah al-amaliyyah al-muktasab min adillatiha-t-tafshiliyyah” atau “majmu’atu ma’arifil -l- ulama-i-l-Indonesiyyin bil-ahkami-sy-syar’iyyah al-amaliyyah al-muktasab min adillatiha-t-tafshiliyyah” (al-Quran, Hadits, Ijma’ dan Qiyas). Menilik beragamnya definisi “Islam Nusantara” tersebut di atas terlihat bahwa belum ada kesepakatan tentang apa yang dimaksud “Islam Nusantara” di antara para pengusungnya sendiri. Dengan kata lain, sebagai sebuah wacana “Islam Nusantara” sesungguhnya adalah wacana yang masih kabur.Jika definisinya saja belum jelas jangan heran bila ketika wacana ini dilempar ke publik banyak timbul persepsi yang beragam yang akhirnya menimbulkan perdebatan dan kegaduhan.

Kajian Islam Islamiwp-1453692994159.jpg

  • Upaya pembentuan opini dan istilah Islam Nusantara tampaknya sudah mulai menjurus pada  fakta bahwa umat Muslim zaman sekarang saling terpecah-belah. Yang menyedihkan adalah bahwa perpecahan tersebut tidak diajarkan oleh Islam sama sekali. Islam mengajarkan untuk menjaga persatuan di antara umat Muslim. Padahal persatuan umat Islam sudah diserukan Allah dalam Al-Qur’an : “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (Qs. Ali Imran[3]:103). Allah sudah mengingatkan agar tidak bercerai berai harus berpegang teguh tali Allah, berpegang teguh pada Al Quran dan hadist yang sahih. Faktanya banyak sekte atau ajaran kelompok agama berbeda beda tetapi sebenarnya yang boleh dipanggil hanyalah muslim. Dan semua muslim harus mengkuti Quran dan Hadist sahih. Ulama manapun yang mengatakan sesuatu sesuai ajaran Quran dan Hadist harus dikuti. Tetapi jika tidaksesuai harus dibuang jauh jauh. Untuk membuat organisasi yang berbeda orang bekerja dalam bidang pendidikan, kajian agama Islam, bidang agama, bidang sosial secara jamah tidak masalah. Tetapi sebagai agama tidak boleh tercerai berai tidak boleh ada sekte atau organisasi ekslusif. Menurut Hadist Tirmidzi Nomor 171, Nabi s.a.w diriwayatkan telah bersabda, “Umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, dan mereka semua akan berada di neraka kecuali satu golongan.”Yaitu golongan yang mengikuti sunahku dan Al Quran.
  • Bila dicermati istilah Islam Nusantara ini tidak memiliki konsep yang jelas, cermat, padu dan kokoh. Karena tidak ada referensi landasan hukum negara dan bahkan tidak mengacu pada hukum agama berdasarkan Quran dan hadist.  Istilah ini cenderung dipaksakan dengan pemikiran dan rasionalitas individu untuk kepentingan-kepentingan politis tertentu, dan ini jelas sekali akan memecah belah Umat Islam
  • Kelompok agama islam baik tradisional ataupun modern harus bersatu menyatukan pola pikir dan pola tindak berdasarkan Al Quran dan hadist sahih. Sebenarnya bila dicermati ide Islam Nusantara itu adalah ide awal kaum liberal yang selalu mengatasnamakan toleran dan demokratis. Hal itu dapat diamati dari para pendukung konsep tersebut. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan Islam liberal bila tidak melanggar al Quran dan hadist atau menyalahkan kelompok lainnya. Bukan menganggap bahwa dirinya atau kelompoknya paling pintar, paling benar dan menganggap kelompok lain salah dan tidak toleran. Bukannya memvonis sesama muslim sebagai islam Arab atau Islam radikal. Hal ini terus terjadi tidak ubahnya dengan  perilaku sekelompok umat yang mengkafirkan umat lainnya atau perilaku dunia Barat yang memvonis Islam teroris. Bila memang pendapat itu tidak bisa disatukan paling tidak jangan menyalahkan kelompok lainnya dan menganggap dirinya paling benar.
  • Melihat permasalahan itu bila dalam kehidupan bernegara terjadi masalah dalam intoleransi, tidak sopan, tidak ramah, radikal dan mengabaikan budaya. Sebaiknya pemimpin agama dan negeri ini bukan membuat kelompok ekslusif sendiri atau golongan Islam baru lagi seperti islam Nusantara. Seharusnya pemimpin negeri khususnya departemen Agama harus melakukan inisiasi untuk menempuh jalur komunikasi, konsultasi dan berkumpul dengan umat muslim lainnya untuk membangun Islam yang sesuai ajaran al Quran dan hadist sahih yang toleransi, sopan, ramah, tidak radikal dan menghormati  budaya. Jika ada budaya yang bertentangan dengan Islam maka bisa ditolak atau disarankan diperbaiki secara santun, tetapi jika sejalan maka diterima. Inilah prinsip Islam dalam beradaptasi dengan budaya. “Jadi Islam itu bisa bermacam-macam akibat keragaman budaya setempat. Bahkan adat, kebiasaan dan budaya bisa menjadi salah satu sumber penetapan hukum Islam,”
  • Tercerai berainya umat muslim bukan sekedar perbedaan pendapat tentang pemahaman ajaran Islam, Quran dan Hadist. Tetapi lebih karena saling menyalahkan, mengejek, menghina dan menganggap dirinya atau kelompoknya paling benar (W Judarwanto). Bila ada perbedaan pemahaman tentang Quran dan hadist maka sebaiknya dikomunikasikan bila tidak bisa disatukan sebaiknya tidak saling menyalahkan, menghina dan menganggap dirinya paling benar. Kebenaran itu adalah milik Allah semata.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s