Dr. Habib Muhammad Rizieq, Lc., M.A., DPMSS, Usulkan Koalisi Permanen 212 Gerindra, PAN, PBB dan PKS

wp-1518926565313..jpg

Dr. Habib Muhammad Rizieq, Lc., M.A., DPMSS, Usulkan Koalisi Permanen 212 Gerindra, PAN, PBB dan PKS

Dr. Habib Muhammad Rizieq, Lc., M.A., DPMSS. yang selama ini dianggap umat muslim Indonesia sebagai Imam Besar umat Isla Indonesia mengimbau Partai Gerindra membangun koalisi bersama PAN, PBB dan PKS dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Apabila koalisi keempat partai ini terjadi, Habib akan mengajak seluruh umat Islam Indonesia dan keluarga besar Alumni 212 untuk mendukung. Imbauan disampaikan Habib kepada Wasekjen Partai Gerindra, Andre Rosiade, di Mekkah pada Rabu (21/3) malam waktu setempat.

Pendapat Pengamat Tentang usulan Dr. Habib Muhammad Rizieq, Lc., M.A., DPMSS, Usulkan Koalisi Permanen 212 Gerindra, PAN, PBB dan PKS

  • Pengamat politik dari Universitas Indonesia, Cecep Hidayat mengatakan jika Gerindra, PKS, PAN dan PBB sepakat membentuk Koalisi 212, maka keempat Parpol itu harus mencari ‘pengikat’ untuk berkoalisi jangka panjang. Namun menurutnya, Koalisi 212 sangat bagus dibentuk sebagai kekuatan penyeimbang. Cecep menilai, empat partai ini belum memiliki kesamaan yang bisa menjadi kekuatan utama. Tujuan untuk mengalahkan Jokowi dinilainya sebagai pengikat atau titik temu jangka pendek. “Lalu, kalau Jokowi sudah kalah, lalu bagaimana lagi. Jangan sampai di tengah jalan terjadi perpecahan,” ujarnya saat dihubungi Republika.co.id, Ahad (25/3). Selain pengikat, Cecep melihat, koalisi yang disebut Rizieq sebagai Koalisi Permanen 212 ini memiliki pekerjaan rumah berikutnya. Yakni, harus mencari calon berkompeten dan memiliki elektabilitas tinggi. Sebab, mereka harus melawan Jokowi yang saat ini mempunyai potensi terkuat dan relatif lebih populer dibanding nama lain dalam bursa Pilpres 2019. Selama belum ada pengikat, Koalisi Permanen 212 masih cenderung lemah untuk maju. Meski Alumni 212 memiliki anggota dengan latar belakang beragam, dari kalangan elit sampai masyarakat biasa, mereka tetap harus memiliki kesamaan. Tidak hanya untuk jangka pendek atau sampai Pilpres 2019 semata, melainkan hingga lima tahun kepemimpinan nanti. Tapi, terlepas dari itu, Koalisi Permanen 212 ini akan memperkuat sistem dua poros dalam Pilpres 2019. “Dua poros ini sudah ideal, di mana masing-masing lebih saling mengawasi. Jadi, harapannya dapat mengontrol kekuasaan,” tutur Cecep.
  • Direktur Eksekutif Media Survei Nasional (Median) Rico Marbun menilai, usulan agar Gerindra, PKS, PAN dan PBB berkoalisi di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 patut dipertimbangkan, dan bukan tidak mungkin menjadi koalisi kuat di 2019. Terlebih, koalisi empat Parpol itu diminta mengusung sendiri pasangan calon presiden atau calon wakil presiden dari suara umat Islam. “Saya pikir usulan koalisi Pilpres itu cerminan dari arus pikiran publik, khususnya kalangan umat Islam,” kata dia kepada wartawan, Ahad (25/3). Usulan Habib Rizieq ini muncul menurutnya bukan tanpa sebab. Usulan ini muncul karena ada arus utama dari pikiran publik, khususnya umat Islam pendukung gerakan 212. Dan arus utama kelompok ini, menurutnya tidak bisa diabaikan begitu saja. Ia merujuk pada politik aliran pada Pemilu 1955 ketika sekelompok umat Islam bersatu dalam arus utama bersama. Hal yang sama terjadi pada pilkada DKI kemarin yang disebut berhasil membawa politik aliran umat Islam melawan kekuatan pejawat. Tapi yang menjadi pertanyaan, elit politik dari empat partai ini mau menangkap sinyal arus utama umat Islam ini atau tidak. Sampai saat ini, partai yang menangkap kuat sinyal arus utama umat Islam kelompok ini adalah Gerindra dan PKS. Sedangkan PAN hingga kini belum secara tegas akan berposisi sebagai koalisi bersama atau pengusung capres-cawapres dengan Gerindra dan PKS. PBB walaupun sudah memposisikan akan melawan Jokowi, namun secara kursi parlemen partai ini tidak memiliki kekuatan. Sementara ada kekuatan Demokrat, yang menurutnya masih menimbang-nimbang apakah akan ikut arus besar umat Islam kelompok 212 atau mengusung kader sendiri. Tapi menurut dia yang penting bukan sekedar koalisi saja, tapi bagaimana pikiran rakyat dan umat Islam tersalurkan dari koalisi ini.”Jadi kalau partai yang tidak berkoalisi atas pikiran rakyat dan umat Islam itu akan terlempar dengan sendirinya. Jadi bila arus politik umat Islam ini semakin membesar, yang mengambil hanya dua partai saja. Dua partai itulah yang akan mendapatkan keuntungan besar dari aspirasi umat Islam ini,” jelas Rico.
  • Direktur eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari mengatakan, Partai Amanat Nasional (PAN) bisa jadi faktor penentu dapat terbentuk atau tidaknya Koalisi 212 di Pilpres, bersama dengan Gerindra, PKS dan PBB. Saat ini PAN dinilai belum menentukan sikap dengan tegas, apakah akan berkoalisi mendukung Joko Widodo (Jokowi) atau Capres lainnya di Pilpres 2019. Qodari mengatakan, jika PAN nanti bergabung ke Jokowi, ia mengatakan akan sulit jika itu dikatakan sebagai Koalisi 212. Sebab, PAN tidak ada di dalam koalisi tersebut. Sebaliknya, jika PAN mendukung Prabowo Subianto atau calon penantang Jokowi lainnya, ia mengatakan koalisi 212 cukup bisa diterima. Ia mengatakan, aksi massa 212 pada 2 Desember 2016 menurutnya adalah gabungan dari berbagai macam kepentingan, yakni mulai dari isu agama dan politik. Menurutnya, isu politik tidak bisa dinafikan. Karena saat itu, lawan-lawan Jokowi berkumpul di sana. Jika melihat kepentingan kelompok-kelompok Islam dan politik, saat itu memang terdapat Gerindra, PAN, PKS, PBB. Namun, yang menjadi pertanyaan, menurutnya, PAN akan mendukung siapa pada Pilpres 2019 nanti. “Menurut saya, koalisi 212 itu baru bisa berlaku jika ada PAN di situ. Kalau PAN tidak ada di situ, tidak bisa disebut koalisi 212 atau bisa dikatakan pincang kekuatannya. PAN dalam hal ini jadi faktor penentu,” kata Qodari, saat dihubungi Republika.co.id, Ahad (25/3). Qodari mengatakan, sosok Prabowo memang mendapat dukungan dari beberapa partai berbasis massa Islam pada Pilpres 2014. Saat itu, ada banyak partai Islam, seperti PAN, PKS, PPP yang berada di belakang Prabowo. Sehingga, isu-isu Islam itu muncul dan sebagian seperti ada di belakang Prabowo. Namun kini, dengan konstelasi politik yang belum terlalu jelas, ia menilai terbentuknya koalisi 212 itu pun belum jelas. Karena sebagian partai sudah berbalik ke Jokowi, seperti halnya PPP dan PKB. Sementara sebagian sudah menyatakan dukungan kepada Prabowo, seperti halnya PKS. Namun, PAN belum menunjukkan arah politiknya. “Kita harus menantikan nanti ujungnya seperti apa koalisinya. PAN ini apakah ke Jokowi atau ke Prabowo. Kalau ke Prabowo, maka suara umatnya akan terbelah. Tetapi kalau ke Jokowi, suara umat cenderung lebih banyak ke Jokowi. Karena tiga partai Islam ada di sana,” lanjutnya. Qodari mengatakan, Habib Rizieq dengan para pendukungnya disebutnya sebagai variabel atau faktor tambahan. Karena Rizieq bukanlah ketua umum partai. Namun jika dilihat kecenderungannya, ia mengatakan Rizieq dan pendukungnya akan cenderung memilih calon yang diusung Gerindra, yakni Prabowo. Namun, ia mengaku belum mengetahui apakah soliditas suara 212 akan kuat jika calon yang diusung adalah sosok Prabowo. Menurutnya, gerakan massa 212 ke kekuatan elektoral memiliki proses transformasi yang masih tanda tanya. Jika di wilayah sekitar Jabodetabek, ia mengatakan kekuatan gerakan 212 sudah terbukti dengan tumbangnya Basuki Tjahja Purnama (Ahok) dari jabatan Gubernur DKI Jakarta. Namun, kekuatan atau pengaruh gerakan 212 di tingkat nasional dikatakannya masih belum diketahui. “Kekuatan atau pengaruh 212 itu skala nasional atau lokal saja? Kalau di Jabodetebek sudah terbukti, kalau di luar belum tahu,” tambahnya. Qodari juga mengatakan ia masih belum mengetahui bagaimana soliditas koalisi 212 jika yang diusung sosok selain Prabowo. Sebelumnya, nama-nama dari tokoh Islam muncul sebagai sosok calon capres atau cawapres pada Pilpres 2019. Nama-nama itu termasuk Gubernur NTB TGH Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB), Habib Rizieq, dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

wp-1518926565313..jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s