Cawapres Jokowi dan Prabowo Harus Mempresentasikan Suara Umat Muslim Indonesia

 

Meski isu sekuler terus dicoba dipaksakan dalam politik Indonesia tetapi tampaknya isu Agama atau SARA dalam kancah perhelatan Pilpres 2019 tidak bisa dihindarkan. Sejauh ini dalam berbagai lembaga survey dan perhitungan kalkulasi politik nama Jokowi dan Prabowo adalah dua sosok yang menjadi pilihan rakyat. Kedua calon presiden tersebut mempunyai karakteristik yang sama berasal dari kelompok nasionalis. Padahal mayoritas pemilih di Indonesia adalah umat muslim. Jadi pertimbangan isu agama masih mendominasi Pilpres 2019. Meski bebererapa kelompok berusaha meredukai kekuatan umat Islam dengan isu sekular dan meneriakkan isu minoritas yang bertujuan melemahkan kekuatan kebangkutan umat Islam . Tetapi tanpa disadari isu tersebut semakin menguatkan isu agama sebagai pertimbangan utama pilpres 2019. Tampaknya Jokowi selama ini mempunyai kelemahan mendasar yang dianggap kurang religius dan kurang dekat dengan kalangan umat Islam Bahkan Jokowi dan rezim yang ada saat ini dianggap tidak memberikan keadilan pada umat Islam apalagi catatan sejarah tentang aksi belas Islam 212, kriminalisasi agama dan PKI masih menjadi isu utama menjatuhkan kredibilitas Jokowi. Jokowi sangat mudah diserang isu Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA). Meski menonjol dalam oembangunan infrastruktur tetapi tampaknya tidak bisa menutupi kelemahan utama Jokowi dianggap belum memenuhi banyaknya janji kampanye (Tri Sakti-Nawacita). Dari berbagai latar belakang itu siapapun yang dipilih Jokowi dan Prabowo yang menjadi pertimbangan utama adalah tokoh nasional yang mempresentasikan suara umat Islam mayoritas.

Latar belakang umat muslim pendukung capres 2019 secara alamiah akan tersaring dalam 2 kubu kelompok besar. Kelompok besar itu adalah umat Islam pendukung Jokowi dan kelompok Islam anti Jokowi. Kelompok ini secara alamiah akan tersaring berdasarkan pengalaman aksi dan perilaku Jokowi dalam memerintah selama ini. Ketidak adilam hukum, ekonomi dan sosial membuat kelompok Islam terkonentrasi pada kelompom pendukung Jokowi dan kelompok anti Jokowi. Adanya berbagai peristiwa aksi bela Islam, kriminalisasi ulama, perlakuan Jokowi dan pendukungnya dalam penistaan agama yang dilakukan Ahok dan ketidak adilan hukum, sosial dan ekonomi membuat kelompok anti Jokowi lebih terkonsentrasi menjadi batu sandungannya untuk maju dalam pilpres 2019. Apalagi menjelang tahun politik itu kelompok ini sudah dari awal secara alamiah tanpa terkoordinasi sudah melakukan penggalangan penggalangan di emdia sosial untuk melakukan aksi #gantipresiden2019.

Fenomena dua kubu umat muslim ini mempunyai karakteristik yang unik. Satu kelompok umat Islam pendukung Jokowi selalu menggaungkan slogan kebinekaan dan NKRI harga mati. Kelompok ini dalam melakukan perang psikologis dengan kelompok umat muslim lainnya selalu melempar isu teraniayanya minotitas, isu radikal, anti Pancasila dan Anti NKRI pada kelompok lainnya Sedangkan kelompok Islam anti Jokowi selalu menggaungkan slogan kelompok pejuang melawan ketidak adilan hukum, ekonomi dan sosial pada umat muslim. Kelompok ini selalu menggunakan isu PKI, teraniayanya ulama dan umat islam, konglomerasi, ketidak adilan hukum, ekonomi dan sosial pada kaum mayoritas. Kelompok islam anti Jokowi ini tampaknya semakin ssangat sipwehitungkan dan ditakuti pihak Jokowi dan pendukung ketika muncul fenomena luarbiasa seorang DR Habib Rizieq M DSSM melakukan aksi Aksi Bela Islam 212. Yang menjadi kelompok informal yang paling ditakuti dan paling diperhitungkan kelompom Jokowi. Hal jnilah yang membuat tokoh Habib Rizieq yang dinobatkan sebahai Imam Besar Umat Muslim terus dikriminalisasikan oleh penguasa hingga sekarang.

Hal unik lainnya kelompok Islam pendukung Jokowi selalu menganggap dirinya Islam moderat, tetapi uniknya justru didukung oleh umat islam tradisional berbasis NU. Karena para elit NU seperti ketua PB NU dan ketua BanserNU secara individu sudah merapat ke Istana. Tetapi secara faktual belum tentu mencerminkan gambaran dukungan masa akar rumput NU. Hal ini terbukti saat para elit NU secara terselubung mendukung Ahok dalam Pilkada tetapi faktanya pengurus NU dibawah dan masa akar rumput justru mendukung Nais Baswedan. Halnujik lainnya kelompom islam anti Jokowi justru didukung kelompok Islam moderat khususnya kelompk Muhamadiyah. Seperti halnya NU , muhamadiyah selalu mengelak bila disebut berpolitik, tetapi faktanya secara umum kelompok ini terpusat dalam kelompok yang kritis terhadap Jokowi. Coba saja dilihat bebtapa tokoh Muhamadiyah seperti Amin Rais, Din Samsudin dan Ketua Pemuda Muhamadiyah adalah kelompok yang selalu membela aksi bela Islam dan mengkritisi rezim Jokowi,

Fenomena pilkada DKI Jakarta tampaknya akan menjadi gambaran miniatur pilpres 2019. Kisah Ahok dengan tingkat elektabilitas yang tinggi , didukung 9 parpol besar dan dengan dukungan dana yang luarbiasa besar dari kelompok pemodal yang menguasai Indonesia terjungkal hanya karena kebangkitan umat zmuslim Indonesia yang digalang para ulama. Tampaknya drama pilkada Ahok vs Anis akan terulang lagi dalam pertarungan Jokowi vs Prabowo.

Di pihak Jokowi tampaknya beberapa tokoh yang mempresentasikan suara umat Islam yang dekat dengan rezim pemerintahan saat ini beberapa nama yang santer disebut bakal menjadi Cawapres Jokowi yakni Romahurmuziy, Muhaimin Iskandar, Said Aqil Siradj. Romahurmuziy saat ini menjabat sebagai Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Muhaimin Iskandar sebagai Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Said Aqiel Siradj ketua PB NU dan ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan. Sedangkan tokoh muslim lainnya adalah Muhammad Zainul Majdi menjabat sebagai Gubernur Nusa Tenggara Barat. Sedangkan calon lainnya seperti Puan Maharani, Jenderal Polisi Budi Gunawan yang kini menjabat sebagai Kepala Badan Inteligen Negara (BIN) dan Agus Harimurti Yudhoyono tampaknya tidak akan menjadipilihan utama karena tidak mempresentasikan suara umat Muslim.

Sedangkan di pihak Prabowo yang menjadi pilihan umat Muslim anti Jokowi adalah Anis Baswedan, TGB Zainul Majdi dan Gatot Nurmantyo. Elektabilitas 3 nama besar itu saat ini akan jadi kuda hitam dalam menjungkalkan Jokowi dalam pilpres 2019. Dalam bernagai pooling 3 nama besar itu semakin melejit dan berkibar. Siapapun yang dipilih Prabowo dari ketika nama itu diyakini pendukungnya akan merontokkan Jokowi. Saat salah satu nama itunakan merapat ke Jokowi maka serta merta kelompok islam anti Jokowi akan mendukung calon lainya yang dipasangkan dengan Prabowo. Sehingga ketiga nama tadi akan berpikir panjang bila harus berpasangan dengan Jokowi karena basis pemilih Islam pasti akan meninggalkannya saat bergabung dengan Jokowi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s