Kaum Penggugat dan Pembela Puisi Sukmawati: Tunjukkan Siapa Kawan dan Lawan ?

wp-1521930439798..jpgKaum Penggugat dan Pembela Puisi Sukmawati: Tunjukkan Siapa Kawan dan Lawan ?

Puisi Sukmawati berjudul “Ibu Indonesia” yang dibacakan oleh Sukmawati sendiri dalam acara “29 Tahun Anne Avantie Berkarya” di Indonesia Fashion Week 2018 kembali membuat heboh negeri ini. Menarik untuk dicermati saat sebuah senjata keras menghunjam menyerang cahaya Islam dan menusuk jantung hati umat Islam maka lihatlah berbagai respon yang muncul baik dalam obrolan sehari hari, opini di media masa, media online dan berbagai profile picture FB , status FB, cuitan di twitter atau komentar di FB atau twitter . Baik tokoh masyarakat, tokoh agama, elit ormas, elit politik, selebritis, teman, sahabat atau saudara kita. Secara personal dan substansi alasan untuk menggugat dan membela puisi Sukmawati mempunyai karakteristik yang khas dan unik sejak terjadi berbagai pergolakan dan perseteruan masalah hukum, politik dan sosial yang ada dalam masyarakat. Kelompok penggugat dan pendukung itu tidak jauh berbeda mulai dari kasus pergolakan penistaan Agama Ahok, Pilkada DKI 2017, Masalah reklamasi, Meikarta dan Pilpres 2019. Seperti berbagai kasus sebelumnya adanya letupan puisi Sukmawati secara alamiah akan tampak mengerucut dalam dua kutub besar siapa berdiri di belahan bumi utara dan siapa berdiri di belahan sebaliknya. Kelompok tersebut secara alamaiah akan menyatu dalam dua kelompok besar dengan berbagi kepentingan individu, partai dan kelompoknya. Meskipun sangat kompleks tetapi apapun alasan dan latar belakang berbagai dua kelompok besar itu pada ujung ujungnya dapat dikenali bahwa salah satu kelompok yang peduli agama dan bangsa secara ikhlas dan jujur tanpa kepentingan individu, partai atau kelompok bersiri pada sisi yang sama. Bisa juga diketahui kaum yang paranoid dengan Islam, islamofobia dan musuh Islam berdiri pada kelompok yang sama. Menarik untuk dicermati bahwa kelompok Islam berpaham liberal, pluralis dan sekular yang telah diharamkan MUI akan berdiri pada sisi yang sama. Penting untuk dilihat bahwa kelompok politik tertentu pendukung Capres tertentu juga akan mengelompok dalam sisi yang sama. Secara sederhana pelajaran hidup yang bisa dimaknai bahwa guncangan kasus besar di negeri ini mudah diketahui siapa kawan dan siapa lawan dari opini dan respon mereka. Letupan kasus besar itu akan membuka topeng kemunafikan siapa saja pembela agama dan pembela NKRI yang jujur dan ihklas demi Allah dan bangsanya

Sepertinya halnya kasus penistaan agama yang dilakukan Ahok kontroversipun segera merebak. Ada pihak yang menganggap puisi itu jelas jelas ada unsur penistaan agama bahkan ada yang menganggap puisi itu penghinaan terhadap agama Islam lebih parah dibandingkan yang dilakukan Ahok. Tetapi ada pihak yang mengatakan bahwa puisi itu tidak unsur penistaan agama. Puisi itu biasa saja, hanya tidak paham syariat, tidak menista agama bahkan banyak penista agama lainnya.

Para penggugat Puisi Sukmawati

  • Prof Sukron Kamil, Guru Besar Sastra Banding dan Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta puisi yang ditulis Sukmawati tidak tepat apabila harus menyandingkan antara budaya nusantara dengan syariat Islam. “Ada kecenderungan islamophobia ketika dia membandingkan antara kidung Indonesia dengan azan. Ini problematik secara antologi seni Islam atau kebudayaan Islam. Itu nampak sekali di dalam soal itu,” ujar Sukron kepada Republika.co.id, Selasa (3/4).
  • Meskipun belum secara resmi tetapi MUI saat ini juga sudah cenderung menyebut terdapat unsur penistaan, “Majelis Ulama Indonesia (MUI) sangat menyesalkan terhadap puisi yang dikarang dan dibacakan oleh Ibu Sukmawati. MUI menilai puisi tersebut dinilai mengandung unsur SARA. Wakil Ketua Umum MUI, Zainut Tauhid Sa’adi mengatakan, seharusnya beliau (Sukmawati) lebih bijak memilih diksi dalam mengungkapkan narasi puisinya. Sehingga tidak membuka ruang interpretasi yang dapat menimbulkan kesalahpahaman dan ketersinggungan pihak lain khususnya umat Muslim.”Karena masalahnya menyangkut hal yang sangat sensitif yaitu tentang ajaran agama,” kata Zainut seperti yang dilansir Republika.co.id, Rabu (4/4). Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cholil Nafis seperti dilansir CNN Indonesia TV, Selasa (3/4) mengatakan “Secara rasa, perasaan subjektivitas pemeluk agama Islam itu merasa dinistakan, merasa dilukai, atau minimal tersinggung oleh puisi ini,” imbuhnya. Buktinya, kata dia, ada laporan masyarakat terhadap Sukmawati.
  • Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (Wasekjen MUI), Tengku Zulkarnain, menilai, puisi Sukmawati Soekarnoputri yang menyinggung syariat Islam, cadar, dan adzan masuk ke ranah penghinaan agama. Dalam puisinya, Sukmawati membandingkan antara adzan dengan kidung. “Ini menghina adzan namanya, ini udah ranahnya udah ranah penghinaan agama, melanggar pasal 156 a (KUHP) yang dilakukan oleh Ahok kemarin,” ujar Tengku di Jakarta seperti dilansir hidayatullah.com, Selasa (03/04/2018) saat dihubungi. Tengku mengingatkan akan kasus Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang divonis bersalah sebagai terpidana penghinaan agama setelah menyinggung al-Qur’an Surat Al-Maidah ayat 51, beberapa waktu lalu.
  • Wakil Ketua Majelis Hukum dan HAM PP Muhammadiyah, Maneger Nasution, menilai anak Proklamator Indonesia, Sukmawati Soekarnoputri, telah menistakan syariat Islam lewat puisinya di Jakarta yang menyinggung syariat Islam, cadar, dan suara adzan baru-baru ini. Maneger menilai, kalau Sukmawati tidak tahu soal syariat Islam, jangan berbicara tentang hal tersebut. Jangan juga kemudian menghinakan keyakinan orang lain, meskipun dalam membaca puisi. Berpuisi itu menyampaikan ekspresi dan hal tersebut hak asasi menurutnya, tapi jangan kemudian malah menghinakan perasaan apalagi keyakinan seseorang. “Itu tidak boleh,” ujarnya kepada hidayatullah.com saat dihubungi, Senin (02/04/2018). Direktur Pusdikham Uhamka ini menambahkan, orang besar ataupun seorang pemimpin bukan hanya merasa bisa, tapi juga bisa merasa. Terutama perasaan akan agama orang lain. Ia pun mengatakan, kepolisian harus memproses ujaran Sukmawati lewat puisinya tersebut.
  • Wakil Ketua DPR Fadli Zon ikut angkat bicara terhadap puisi kontroversial Sukmawati Soekarnoputri. Dia mengatakan, syair putri Bung Karno itu bukan metafora, melainkan komparasi. “Kalau tahu takaran bisa menimbulkan sebuah kegaduhan, harusnya tahu risikonya seperti apa,” ujar Fadli menanggapi pertanyaan wartawan, Selasa (3/4/2018). “Saya pikir memang meskipun itu adalah sebuah ekspresi, tetapi memang kalau secara spesifik menyebutkan azan, ini kan hal-hal sensitif. Apalagi bukan dalam sebuah metafor tapi satu bentuk komparasi,” ujar Fadli di Gedung DPR, Senayan seperti dilansir dari Okezone.com. Menurut Fadli, tak semua orang menerima komparasi keberagaman yang disampaikan Sukmawati dalam puisinya. Sehingga, Fadli berharap Sukmawati segera memberikan klarifikasinya. “Saya kira mestinya bisa diklarifikasi oleh Sukma karena tentu akan menimbulkan interpretasi yg berbeda-beda. Terutama dari umat islam karena yang disebutkan syariat Islam dan azan dan cadar dan seterusnya,” jelasnya.
  • Wakil Ketua DPR dari PAN Taufik Kurniawan ikut menyayangkan puisi Sukmawati. Menurut Taufik, isinya berpotensi menaikkan tensi publik setelah kondusif pasca-kasus penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.”Kemungkinan untuk potensi konfliknya akan bisa terjadi lagi. Hal yang sudah relatif dingin reda akan membangkitkan semangat kegaduhan lagi,” ucap Taufik.
  • Gatot Nurmantyo menuliskan tentang Ibu Pertiwi melalui unggahan akun instagram pribadinya, Rabu 4 April 2018 sekitar pukul 11.00 WITA diduga sebagai jawaban puisi Sukmawati Soekarnoputri, Ibu Indonesia. Berikut petikan kata-kata yang diposting Gatot Nurmantyo: “Ibu Pertiwi nan cantik dan ayu, bukan kiasan wajah sesungguhnya. Tapi karena pancaran nur cahaya Nusantara yang mengagungkan keelokannya. dengan lantunan puja puji dan petunjuk Al Quran serta panggilan Ilahi. Azan di segala penjuru Nusantara”, tulisan di postingan Gatoy Nurmantyo. Sementara itu Gatot Nurmantyo menuliskan caption, “Azan di segala penjuru Nusantara #satukanhatiuntukindonesia #gatotnurmantyo #jagaindonesia”.
  • Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur memerintahkan badan otonom yaitu Anshor untuk menyampaikan surat aduan ke Polda terkait puisi yang dibacakan Sukmawati Soekarnoputri dalam acara 29 Tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week 2018. PWNU mengadukan Sukmawati lantaran puisi yang dibacakannya tersebut dianggap tidak menghormati agama Islam. “Yang sangat kami sayangkan substansi daripada puisi itu. Di mana di situ menyebut idiom-idiom agama Islam seperti syariat, cadar, dan azan yang dibandingkan dengan budaya, terutama budaya Jawa. Dan isi daripada puisi itu tidak menghormati agama Islam,” kata Ketua PWNU Jatim Hasan Mutawakkil Alallah, saat menggelar konferensi pers di Kantor PWNU Jatim, Surabaya, Rabu (3/4). Hasan menjelaskan, kasus tersebut diadukan ke Polda Jatim agar bisa diproses secara hukum, sehingga tidak malah menimbulkan gejolak di masyarakat. Apalagi ini merupakan tahun politik, kasus tersebut bisa saja dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk melakukan kampanye hitam.
  • Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur, melaporkan Sukmawati Soekarnoputri ke Polda Jawa Timur. Sukmawati dilaporkan terkait videonya pembacaan puisi berjudul ‘Ibu Indonesia’ yang mendadak viral. “Saya mewakili Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) menindaklanjuti pernyataan tentang penyampaian puisi dari Sukmawati,” kata Ketua Pimpinan Wilayah GP Ansor Jatim, Rudi Tri Wahid, didampingi Banser dan lima perwakilan Ansor di Mapolda Jatim di Surabaya. Demikian dikutip dari Antara, Selasa (3/4). Rudi mengatakan, laporan ini dibuat agar kepolisian menindaklanjuti dan diproses guna mengantisipasi keributan dan mengakhiri kegaduhan yang sedang terjadi di masyarakat. “Bentuknya laporan atau pengaduan. Kita lebih mengantisipasi keributan yang ada di masyarakat, perkara kemudian dikategorikan apa itu perkara polisi,” ujar Rudi. Dia menjelaskan, PWNU tidak menginginkan adanya kegaduhan dan keresahan terjadi di Jawa Timur. Sebab, video pembacaan puisi itu kini tengah viral di media sosial.
  • Ketua Bidang Tarbiyah PP Persatuan Islam (Persis), Irfan Saprudin menanggapi soal puisi yang dibacakan oleh Sukmawati Soekarnoputri tentang budaya Indonesia. Ia menilai, dalam konteks puisi tersebut, Sukmawati telah gagal memahami arti budaya yang berkembang di Indonesia. Menurutnya, jika putri dari Proklamator Kemerdekaan bangsa Indonesia Soekarno itu berbicara di Barat, tidak akan ada reaksi seperti halnya sekarang yang membuat puisinya menjadi viral. Karena menurutnya, hal demikian di Barat sudah terbiasa. Namun di Indonesia, Irfan mengatakan bahwa Sukmawati harus mengerti tradisi dan budaya yang berkembang. “Kalau lah yang bersangkutan bisa paham dan mengerti serta menghormati, terutama terhadap nilai-nilai Islam yg menjadi anutan mayoritas Umat Islam, maka Mba Sukmawati menjadi Budayawan atau seniman yang sejati. Melihat kejadian sekarang, Mba Sukma salah dan tidak tepat mengekspresikan pembacaan puisinya dengan kalimat-kalimat yang meresahkan bahkan cenderung penghinaan,” kata Irfan, melalui pesan elektronik kepada Republika.co.id, Rabu (4/4).

wp-1520130056675..jpg

Para Pembela Puisi Sukmawati

  • Menteri Agama Lukman Hakim. Lukman Hakim menyakini puisi yang dibacakan Sukmawati Soekarnoputri dengan judul Ibu Indonesia, tidak bermaksud melecehkan agama Islam. “‎Saya yakin, saya menyakini betul, saya mengenal Ibu Sukma cukup baik, dan saya yakin betul tidak ada itikad atau niatan sedikitpun dari beliau untuk melecehkan atau menghina, katakanlah menyakiti umat Islam, beliau itu beragama Islam,” ujar Lukman di kantor Presiden, Jakarta, Rabu (4/4/2018). ‎Lukman yang mengaku telah berkomunikasi secara khusus kepada Sukmawati, melihat puisi tersebut hanya bersifat ekspresi dari yang dipikirkan, rasakan, dan pengetahuan ataupun wawasan Sukmawati itu sendiri. ‎”Jadi sama sekali tidak ada tendensi atau niatan atau yang negatif kepada umat Islam. Sekarang faknya ada sebagian kita merasa puisi itu bermasalah, saya menyarankan lebih baik dan dengan jiwa besar, beliau bisa menyampaikan permohonan maaf, khususnya bagi mereka yang merasa tidak nyaman,” papar Lukman.
  • Seword. Situs online yang selama ini dianggap sebagai pendukung utama Jokowi melakukan pembelaan terhadap kasus puisi Sukmawati. Heboh!!! Puisi Sukmawati berjudul “Ibu Indonesia” yang dibacakan oleh Sukmawati sendiri dalam acara “29 Tahun Anne Avantie Berkarya” di Indonesia Fashion Week 2018 menuai polemik. Puisi itu dianggap kontroversi karena menyinggung cadar dan adzan. Padahal kalau mau ditelaah kata demi kata, Sukmawati dengan jelas menyebutkan kata “cadarmu” dan “adzanmu”. Bukan kata “cadar” dan “adzan” saja. Ada “mu” nya. Ikuti pembahasannya dalam artikel ini. Supaya kau dapat mengetahui kemolekan sejati dari bangsamu. Sudah sejak dahulu kala riwayat bangsa beradab ini cinta dan hormat kepada ibu Indonesia dan kaumnya. Dari pembacaan puisi di atas yang sudah seharusnya kita baca secara lengkap, jangan sepenggal-sepenggal, bisa kita simpulkan bahwa Sukmawati sangat mengagumi budaya bangsanya sendiri, bangsa Indonesia. Jika Sukmawati sampai membawa-bawa kata cadar dan adzan, perhatikan baik-baik, ada kata “mu” yang menyertai. Cadarmu dan adzanmu. Mengacu pada kata “mu” jelas ada oknum di situ. Oknum yang bagaimana??? Oknum yang ingin mengganti budaya Indonesia dengan budaya Arab yang memang fakta sedang marak terjadi akhir-akhir ini. Semoga sampai di bagian ini bisa dipahami dengan jelas oleh semuanya. Kata “cadar” dan “cadarmu” adalah dua hal yang berbeda. Kata “adzan” dan “adzanmu” juga dua hal yang berbeda. Itulah yang Sukmawati kritisi. S ukmawati muak dengan oknum-oknum yang ingin mengganti budaya Indonesia dengan budaya Arab. Bukan muak dengan cadar dan adzannya.
  • Ustadz Abu Janda Arya Permadi. Tidak ketinggalan tokoh kontroversial Abu Janda alias Permadi Arya yang juga membuat video puisi untuk Sukmawati. Namun puisinya tersebut ditujukan untuk membela Sukmawati.
  • Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas. Gus Yaqut sapaan akrabnya, mengatakan bahwa puisi tersebut memang kontroversial, Namun dia meminta masyarakat tidak terburu-buru menghakimi karena sesungguhnya puisi membutuhkan penafsiran. “Puisi ibu Sukmawati memang kontroversial. Apalagi di tengah masyarakat yang sedang mengalami gairah Islamisme demikian kuat. Saya menduga, Sukmawati hanya ingin mengatakan bahwa kita berindonesia itu harus utuh, tidak mempertentangkan antara agama dan kebudayaan,” kata Yaqut, pada Selasa (3/4/2018) kemarin. Menurut Gus Yaqut, mungkin karena keterbatasan pengetahuannya tentang syariat Islam, seperti diakui sendiri dalam puisinya, maka pilihan diksi bahasanya terdengar tidak tepat. “Menggunakan azan sebagai pembanding langgam kidung tentu bukan pilihan diksi yang baik,” jelasnya. Gus Yaqut menjelaskan, GP Ansor menganut prinsip yang diajarkan para kiai untuk tasamuh (toleran) dan tawazun (berimbang). Dengan begitu, tidak menghakimi dengan cara pandang sendiri yang belum tentu benar. “Saya berharap, jika memang puisi Sukmawati dianggap keliru, para kiai turun tangan, panggil Sukmawati, nasehati dan berikan bimbingan. Bukan buru-buru melaporkan ke polisi. Langkah ini menurut hemat GP Ansor akan lebih bijaksana dan efektif meredam kegaduhan-kegaduhan yang tidak perlu,” pungkasnya.
  • Tokoh Islam Liberal Sumanto Qurtubi. Sebagian umat Islam Indonesia itu aneh. Giliran berpuluh-puluh ribu umat Islam ditipu pake umroh oleh rombongan kentiwul bodong, cangkeme pada mingkem pura-pura pikun dan rabun. Tapi giliran ada puisi soal cadar & azan, mereka ramai bengak-bengok kayak toa dol. Bagaimana umat Islam mau maju wong membedakan antara cokelat dan telek ayam saja belum bisa.
  • Ade Armando. Dosen komunikasi Universitas Indonesia (UI) Ade Armando memberikan tanggapan soal kasus azan yang sedang marak jadi perbincangan. Ia menilai azan bukanlah panggilan suci. “Azan tidak suci. Azan itu cuma panggilan untuk sholat. Sering tidak merdu. Jadi, biasa-biasa sajalah,” kata Ade melalui laman media sosial, Rabu (5/4/2018). Saat diminta untuk berhati-hati berkata oleh komentator di lamannya, ia justru meminta orang tersebut belajar agama dengan baik. “Azan itu hukumnya bahkan tidak wajib.. Belajar Islam dulu ah baru debat,” balasnya. Ketika ditanya soal dasar hukum ucapan tersebut, suami dari Nina Armando itu menjawab, “Azan itu kan pemberitahuan bahwa waktu sholat sudah tiba,” kata dia.

  • Deni Siregar

  • Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Helmy Faishal Zaini mengatakan puisi yang dibaca oleh Sukmawati Soekarnoputri belum tentu berniat menghina Islam. Helmy juga mengimbau para tokoh bisa secara tepat dan hati-hati dalam menggunakan kalimat atau diksi dalam berinteraksi. “Saya berkeyakinan tidak ada niatan dari Sukmawati untuk melecehkan Islam. Terkait puisi Sukmawati Sukarnoputri, hendaknya kita mengedepankan ‘tabayyun’ karena sangat mungkin pemahaman atau penyampaian Bu Sukmawati terhadap makna syariat Islam tidak utuh,” kata Helmy kepada wartawan di Jakarta, Rabu (4/4). Helmy mengatakan verifikasi terhadap perkara merupakan langkah penting sebagai bagian dari kehati
  • -hatian dan juga agar lebih jernih melihat persoalan. Terhadap adanya upaya beberapa pihak agar masalah itu dibawa ke ranah hukum, Sekjen PBNU mengimbau agar masalah itu dapat diselesaikan dengan terlebih dahulu melakukan dialog dan silaturahim. Kendati demikian, Helmy berpendapat hendaknya para tokoh bisa secara tepat dan lebih hati-hati ketika menggunakan kalimat atau diksi dalam berinteraksi, utamanya dalam ruang publik. Para tokoh hendaknya tidak menggunakan kalimat yang dapat berpotensi mengganggu bangunan ke-Indonesiaan, kata dia. “Menjadi Indonesia seutuhnya adalah bagian dari bersyariah. Seluruh nilai Pancasila adalah Islami. Maka, tak perlu dipertentangkan. Banyak yang tidak utuh memahami makna syariah. Syariah tidak identik dengan khilafah (negara agama). Menjadi warga negara Indonesia yang taat itu juga sudah bersyariah,” tuturnya. Maka, kata dia, Pancasila yang indah jangan diganggu dengan akrobat kata-kata yang berpotensi mengganggu kerukunan. Seluruh masyarakat agar tetap tenang dan tidak mengambil tindakan-tindakan yang justru akan memperkeruh keadaan. “Mari tetap kita sikapi dengan tenang dan kepala dingin,” katanya.
  • Ketua GP Ansor. Gus Yaqut sapaan akrabnya, mengatakan bahwa puisi tersebut memang kontroversial, Namun dia meminta masyarakat tidak terburu-buru menghakimi karena sesungguhnya puisi membutuhkan penafsiran. “Puisi ibu Sukmawati memang kontroversial. Apalagi di tengah masyarakat yang sedang mengalami gairah Islamisme demikian kuat. Saya menduga, Sukmawati hanya ingin mengatakan bahwa kita berindonesia itu harus utuh, tidak mempertentangkan antara agama dan kebudayaan,” kata Yaqut, pada Selasa (3/4/2018) kemarin. Menurut Gus Yaqut, mungkin karena keterbatasan pengetahuannya tentang syariat Islam, seperti diakui sendiri dalam puisinya, maka pilihan diksi bahasanya terdengar tidak tepat.

Siapakah Yang Benar ?

  • Sangat menarik dicermati sosok individu dan substansi opini dan komentar dalam pembicaraan sehari hari atau di berbagai media masa dan media sosial. Substansi alasan gugatan dan belaan ada tajam berargumentasi cerdas berdasarkan data dan fakta tetapi ada juga yang dangkal dengan alasan yang menggelikan hanya berdasarkan ilusi semata. Uniknya sosok individu penggugat dan pendukung Sukmawati itu orang orangnya sudah bisa ditebak yang bisa dikenali rekam jejak opini, perilaku dan ucapan ucapannya selama ini. Menariknya sosok pendukung dan pembela Puisi Sukmawati selma ini selalu berdiri dalam barisan yang sama.
  • Siapakah sosok individu yang paling benar ? Tidak mudah untuk menilai tergantung dari siapa yang menilai dan apa niat kepentingan untuk menilainya. Sehingga akan sama sulitnya untuk menilai apakah puisi Sukmawati adalah penistaan agama. Bagi para pembela biasanya secara kasat mata akan mudah memastikan apakah puisi itu sebagai penistaan agama. Tetapi bagi para pembelanya kadang tidak mudah untuk memberikan argumentasi pembelaan. Kadang alasan pembelaan keluar dari substansi dengan menyalahkan budaya Arab, menyalahkan ketidaktahuan syariat, nasionalisme, demi persatuan NKRI dan berbagai argumentasi lain yang justru menohok pikah lainnya.
  • Ketika nusantara terbelah kasus hukum, sosial dan politik yang besar, dari respon rakyat secara alamiah akan memunculkan siapakah lawan dan siapakah kawan dalam dunia dan akhirat. Saat Indonesia terguncang oleh peristiwa ketidakadilan ekonomi, hukum dan politik dari komentar masyarakat akan terdeteksi dengan jelas siapakah sejatinya penegak NKRI dan pembela Pancasila yang tulus. Ketika negeri ini terporak perandakan oleh kasus penistaan agama dari berbagaimopini atau komentar akan tersaring siapakah sesungguhnya pembela Islam sejati dan kaum munafik atau kaum ihklas. Saat NKRI terkoyak oleh penghinaan agama tertentu akan bermunculan kaum fobia agama tertentu dan tidak penyuka agama.
  • Mungkin tidak penting menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Tampaknya tidak perlu menentukan siapa yang paling pintar syariat atau yang tidak karena bila hal itu diperdebtkan tidak akan pernah berakhir. Saat fenomena ini terjadi umat Islam Indonesia bisa mengetahui secara jelas siapa saja sebenarnya tokoh atau elit politik yang dikenal luas oleh masyarakat. Yang mana pembela agama sejati dan yang mana pembela NKRI sesungguhnya rakyat yang paling tahu.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s