Partai Allah (hizb Allah) vs Partai setan (hizb syaithan) Ternyata Diungkapkan Al Mujadilah 19 – 22.

wp-1523050562084..jpgPartai Allah (hizb Allah) vs Partai setan (hizb syaithan) Ternyata Diungkapkan Al Mujadilah 19 – 22.

Kontroversipun merebak saat Prof DR Amin mengungkapkan istilah partai setan. Padahal saat khutbah di masjid, Amin Rais, para ulama atau para utadz menyebut kata setan adalah hal yang biasa seperti halnya menyebut kata kafir. Para Ahli Tafsir menyebutkan kata Syaiton dalam bentuk mufrod dan jama’ disebutkan sebanyak 88 kali. Dan kata iblis disebut sebanyak 11 kali. Allah selalu mengingatkan bahwa setan dan iblis adalah musuh seluruh manusia sampai hari kiamat. Sehingga para penjaga moral umat itu selalu mengingatkan bahwa setan adalah musuh utama yang ada dalam diri manusia yang harus selalu diwaspadai. Sehingga seruan untuk menjauhi bisikan setan dan hindari berperilaku setan dalam kehidupan sehari hari baik kehidupan sosial, budaya dan politik adalah hal yang harus selalu dilakukan. Tetapi saat para penceramah menyerukan kebaikan dengan menyerukan menjauhkan setan sama hal dengan bila menyerukan psan moral yang berkaitan dengan kata kafir banyak yang tersinggung. Tampaknya kata setan itu seperti kontroversi istilah kafir yang membuat pihak tertentu menjadi sangat sensitif. Padahal ceramah itu ditujukan untuk kalangan internal umat muslim, bukan konsumsi umum. Tetapi masalah itu muncul ketika media mainstream dan media sosial memviralkan.

Wakil Ketua Umum MUI, Zainut Tauhid Sa’adi mengatakan penjelasan partai Allah (hizb Allah) dan partai setan (hizb syaithan) memang terdapat dalam Alquran, tepatnya pada surat Al Mujadilah ayat 19 hingga 22. Ayat tersebut menerangkan adanya dua golongan manusia, yakni golongan setan (hizb as syaithan) dan golongan Allah (hizb Allah). Golongan setan itu disebutkan sebagai sekelompok orang yang selalu berdusta, lupa mengingat dan menentang ajaran allah. Mereka itu merupakan golongan yang merugi. Sementara itu, golongan Allah dijelaskan sebagai sekelompok orang yang yang menanamkan keimanan dalam hati mereka dan berharap pertolongan Allah. Mereka itu termasuk golongan orang yang beruntung. Meskipun konteks ayat tersebut lebih pada makna transendental, yaitu tentang akidah, keyakinan, atau keimanan kepada Allah SWT, bukan dalam konteks politik.

Sebenarnya pihak tertentu tidak perlu panas dan panik bila merasa tidak mempunyai niat dan tindakan jahat seperti setan atau bukan setan. Amin juga tidak menyebutkan nama partainya. Bahkan saat disinggung mana saja parpol pembela Allah maka tidak mudah menentukan. Bahkan saat dikonfirmasi usai memberikan tusyiah, Amienpun enggan membeberkan partai apa saja yang masuk kategori hizbus syaithan. Bahkan Aminpun saat itu mengatakan “Saya enggak katakan begitu. Jadi bukan partai, tapi cara berpikir. Cara berpikir yang untuk Allah dan yang diikuti oleh setan. Gelombang pro setan merugi, gelombang besar yang didikte kehendak Allah pasti menang,” kata dia dalam tausiyahnya. Para ustadz yang lain juga sering menyerukan kebaikkan dengan mengatakan hati hati bujukan setan atau jauhilah perbuatan setan seperti peminum alkohol, pezinah, koruptor, perampok, pencuri, pembunuh, pemfitnah, dan perbuatan jahat lainnya. Tetapi selama ini para setan dan teman setan itu tidak ada yang pernah melaporkan para ustad ke polisi karena mungkin saja para penjahat itu sadar memang selalu ditemani bisikan setan dalam kehidupannya.

Egoisme politik

Dalam kondisi bangsa yang telah dipapari oleh egoisme kehidupan politik membuat egoisme individu dan egoisme kelompok lebih sensitif mudah marah dan lebih garang. Dominasi egoisme individu dan egoisme kelompok inilah yang membuat otak manusia Indonesia saat ini lebih sensitif, mudah panik dan lebih agresif. Siapapun yang berbicara bila itu lawan politiknya atau menyinggung idolanya dalam berpolitik akan mudah membuat tensi di otak meningkat dan memupuk benih kebencian dihatinya. Apalagi yang berbicara adalah tokoh nasional dan substansi bahasanya sangat merugikan kepentingan partai politik dan tokoh politiknya. Sehingga umat muslim dan para pemuka agama saat ini selalu dipaksa harus mengorbankan egonya dan selalu mengalah untuk menyebutkan kata setan dengan kata jahat atau kata kafir dengan non muslim. Padahal kata kata itu bukan buatan manusia tetapi kalimat Allah yang diajarkan pada manusia. Mungkin saja ke depan agar banyak tokoh dan kelompok tertentu tidak mudah tersinggung dan menjadi sensitif maka nantinya kata kata yang sensitif harus disimpan dalam hati atau diganti istilah lainnya. Seperti kata komunis nantinya bila ingin lebih teduh bisa diganti dengan kata anti Tuhan. Agar tidak menyinggung pemguasa istilah Utang Negara dirubah jadi Pinjaman Negara. Agar tidak membuat lawan sensitif kata bodoh diubah jadk dungu dan seterusnya. Begitu juga halnya keppres yang ditandatangani pada 14 Maret 2014 oleh Presiden SBY mengganti istilah China menjadi Tionghoa. SBY menilai dengan mengganti istilah itu pandangan dan perlakuan diskriminatif terhadap seseorang, kelompok, komunitas dan/atau ras tertentu pada dasarnya melanggar nilai atau prinsip perlindungan hak asasi manusia.

Bangsa ini harus maklum, inilah uniknya egoisme kebencian dan egoisme amarah manusia Indonesia. Salah satunya dengan hanya mengganti istilah meski dengan arti yang sama ternyata dapat mengurangi sensitifitas dan meredam ketegangan antar umat Indonesia yang beragam. Ternyata masalah itu mungkin hanya pilihan kata yang tepat dan teduh. Meskipun sebenarnya yang lebih ideal bukan mengganti kata kata yang super sensitif itu. Lebih bijaksana lagi sebenarnya bila mengendalikan diri dalam mengobral kata kata super sensitif itu. Tetapi akan lebih arif lagi bila berkemampuan meredam kebencian dan amarah diri sendiri dengan niat dan tujuan mulia demi meredam ketegangan antara anak bangsa. Karena, siapapun anak bangsa bisa benci dan marah. Karena kebencian dan kemarahan itu mudah. Tetapi benci dan marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi niat dan tujuan yang benar, atau dengan cara yang baik, sering salah dan tidak mudah.

Tahun politik ini para penjaga kekuasaan atau peraih kekuasaan dan para simpatisannya bukan hanya sensitif dan mudah marah, tetapi juga mudah panik dan takut. Takut kalah dan panik akan tergeser kedudukan jabatannya. Takut idola politiknya terjungkal kekuasaannya. Takut dan panik tidak akan mendapat perlindungan dari penguasa. Padahal takut dan panik adalah jalan menuju lorong kegelapan. Panik dan takut mendorong orang menjadi marah, marah membuat orang menjadi benci dan paranoid. Benci dan paranoid menggiring orang memasuki penderitaan hidup yang tidak bisa tenang dan damai. Takut dan panik membuat sensitif dan marah ketika ditanya siapakah politikus dan partai pembela agama Allah.

wp-1523405019957..jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s