Pemerintah Rencanakan Dosen Asing, Uniknya Sebagian Besar dari China

Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) berencana mengundang dosen dari perguruan tinggi luar negeri ke Indonesia. Para dosen asing itu rencananya akan mengajar dan berkolaborasi dengan perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi swasta di Tanah Air. Dirjen Sumber Daya Iptek Dikti Kemristekdikti, Ali Ghufron Mukti, mengatakan untuk mendatangkan dosen asing, pihaknya mengucurkan anggaran Rp250 miliar hingga Rp300 miliar. Anggaran tersebut akan digunakan untuk penggajian para dosen, akomodasi dan biaya lain-lain. Gaji dosen asing, kata dia, mulai dari 0 hingga USD5000 tiap bulannya. Sementara itu, sambung Ghufron, dosen asing yang akan didatangkan ke Indonesia adalah mereka yang ahli dibidangnya dan merupakan dosen dari perguruan tinggi 100 besar dunia. Rencananya, mereka akan mengajar dan melakukan penelitian di Indonesia selama dua tahun. Tetapi ternyata saat ini anehnya dosen asing seperti halnya tenaga kerja asing sebagian besar dosen berasal dari Cina. Lebih menjadi tanda tanya ketika isu itu muncul setelah ditanda tanganinya Perpres tentang kemudahan TKA di Indonesia. Apakah ini kebetulan belaka ? Apakah ada grand design tentang rencana itu ? Tampaknya pemerintah harus hati hati dalam menerapkan rencana itu. Apalagi saat ini isu “Asing dan Aseng” masih sangat sensitif di negeri ini. Pemerintah harus menjelaskan mengapa dosen asing terbesar dari Cina, bukan dari Jepang atau dari Amerika misalnya. Bila dosen dari Cina sesuai kebutuhan dan sesuai kapasitas dan kemampuan tampaknya tidak masalah.

Banyak Dosen Asing di RI Berasal dari China

Tenaga kerja asing (TKA) yang menjadi dosen di Indonesia mayoritas berasal dari China. Pemerintah berencana akan menambah lagi jumlah dosen yang berasal dari China. Menristek Dikti M. Nasir menjelaskan jumlah dosen asing dari China jumlahnya lebih banyak dari Jepang. “Kemarin China 550, saya minta tambahan lagi. Jepang tidak terlalu banyak, paling banyak itu China,” kata M. Nasir di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (9/4).

Kementeriannya kini tengah mengkaji peraturan menteri soal kebijakan tenaga kerja asing (TKA) yang akan menjadi dosen tetap di Indonesia. Permen ini merupakan aturan turunan setelah penerbitan Perpres Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing. Nasir mengatakan pihaknya terus rapat untuk membahas lama waktu TKA bisa bekerja di Indonesia. Ia belum memutuskan secara pasti lama mengajar dosen tersebut, karena saat ini masih dalam tahap pembahasan di kementeriannya. “Kemarin China 550, saya minta tambahan lagi. Jepang tidak terlalu banyak, paling banyak itu China,” kata M. Nasir di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (9/4).
Kementeriannya kini tengah mengkaji peraturan menteri soal kebijakan tenaga kerja asing (TKA) yang akan menjadi dosen tetap di Indonesia. Permen ini merupakan aturan turunan setelah penerbitan Perpres Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing.
Nasir mengatakan pihaknya terus rapat untuk membahas lama waktu TKA bisa bekerja di Indonesia. Ia belum memutuskan secara pasti lama mengajar dosen tersebut, karena saat ini masih dalam tahap pembahasan di kementeriannya.

Kementeriannya kini tengah mengkaji peraturan menteri soal kebijakan tenaga kerja asing (TKA) yang akan menjadi dosen tetap di Indonesia. Permen ini merupakan aturan turunan setelah penerbitan Perpres Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing.
Nasir mengatakan pihaknya terus rapat untuk membahas lama waktu TKA bisa bekerja di Indonesia. Ia belum memutuskan secara pasti lama mengajar dosen tersebut, karena saat ini masih dalam tahap pembahasan di kementeriannya.

Tenaga kerja asing (TKA) yang menjadi dosen di Indonesia mayoritas berasal dari China. Pemerintah berencana akan menambah lagi jumlah dosen yang berasal dari China. Menristek Dikti M. Nasir menjelaskan jumlah dosen asing dari China jumlahnya lebih banyak dari Jepang. “Kemarin China 550, saya minta tambahan lagi. Jepang tidak terlalu banyak, paling banyak itu China,” kata M. Nasir di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (9/4). Kementeriannya kini tengah mengkaji peraturan menteri soal kebijakan tenaga kerja asing (TKA) yang akan menjadi dosen tetap di Indonesia. Permen ini merupakan aturan turunan setelah penerbitan Perpres Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing.

Nasir mengatakan pihaknya terus rapat untuk membahas lama waktu TKA bisa bekerja di Indonesia. Ia belum memutuskan secara pasti lama mengajar dosen tersebut, karena saat ini masih dalam tahap pembahasan di kementeriannya. “Kemarin China 550, saya minta tambahan lagi. Jepang tidak terlalu banyak, paling banyak itu China,” kata M. Nasir di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (9/4). Kementeriannya kini tengah mengkaji peraturan menteri soal kebijakan tenaga kerja asing (TKA) yang akan menjadi dosen tetap di Indonesia. Permen ini merupakan aturan turunan setelah penerbitan Perpres Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing.

Nasir mengatakan pihaknya terus rapat untuk membahas lama waktu TKA bisa bekerja di Indonesia. Ia belum memutuskan secara pasti lama mengajar dosen tersebut, karena saat ini masih dalam tahap pembahasan di kementeriannya. “Kemarin China 550, saya minta tambahan lagi. Jepang tidak terlalu banyak, paling banyak itu China,” kata M. Nasir di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (9/4).

Kementeriannya kini tengah mengkaji peraturan menteri soal kebijakan tenaga kerja asing (TKA) yang akan menjadi dosen tetap di Indonesia. Permen ini merupakan aturan turunan setelah penerbitan Perpres Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing. Nasir mengatakan pihaknya terus rapat untuk membahas lama waktu TKA bisa bekerja di Indonesia. Ia belum memutuskan secara pasti lama mengajar dosen tersebut, karena saat ini masih dalam tahap pembahasan di kementeriannya. Nasir mengatakan pihaknya terus rapat untuk membahas lama waktu TKA bisa bekerja di Indonesia. Ia belum memutuskan secara pasti lama mengajar dosen tersebut, karena saat ini masih dalam tahap pembahasan di kementeriannya. Nasir mengatakan pihaknya terus rapat untuk membahas lama waktu TKA bisa bekerja di Indonesia. Ia belum memutuskan secara pasti lama mengajar dosen tersebut, karena saat ini masih dalam tahap pembahasan di kementeriannya. “Ini regulasi kan baru. Bagaimana teknisnya, bagaimana keimigrasian, jangan sampai yang masuk ke keimigrasian masih sulit. Kalau itu sulit masalah lagi,” ujarnya. “Tujuannya kalau enggak dua tahun ya tiga tahun. Untuk stay di sini, artinya bisa stay 2-3 tahun kayak di luar negeri,” tambah M. Nasir.stay di sini, artinya bisa stay 2-3ahun kayak di luar negeri,” tambah M. Nasir.
Pemerintah akan memprioritaskan dosen yang menguasai bidang ilmu pengetahuan, teknik, teknologi hingga matematika (STEM). Sejumlah orang asing pun menyatakan diri berminat mengajar di universitas di Indonesia. Pemerintah akan memprioritaskan dosen yang menguasai bidang ilmu pengetahuan, teknik, teknologi hingga matematika (STEM). Sejumlah orang asing pun menyatakan diri berminat mengajar di universitas di Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s