Ahok dan Jokowi Tidak Jauh Berbeda ?

Ahok dan Jokowi Tidak Jauh Berbeda ?

Ahok dan Jokowi ternyata tidak jauh berbeda. Karakteristik peta politik, dukungan sosial dan ekonomi setahun sebelum pilpres dan pilkada ke duanya tidak jauh berbeda. Pada saat setahun sebelum pilkada atau pilpres mempunyai elektabilitas yang tinggi sekitar 36-50%. Kesamaan lainnya Ahok dan Jokowi adalah sama sama incumbent dan sama didukung sebagian besar media mainstream cetak dan televisi. Tiada hari tanpa pujian untuk kedua tokoh tersebut. Sebaliknya media sosial dikuasai oleh lawannya. Berulang kali media itu juga  menyuarakan hal yang sama bahwa dalam berbagai survey keduanya sangat hebat sehingga tidak ada figur yang menyamai. Kesamaan lain keduanya didukung oleh banyak partai politik besar. Sedangkan lawan politiknya hanya didukung 2 partai. Karaktristik rakyat pendukungnya juga tampaknya tidak jauh berbeda. Pada umumnya pendukung Ahok adalah pendukung Jokowi. Keduanya mempunyai masalah yang hampir mirip yaitu ketidakdekatannya dengan pemilih mayoritas muslim. Pada saat yang sama keduanya juga mendapat berbagai ancaman isu yang sama seperti isu dukungan 9 kekuatan besar, isu SARA, komunis, kriminalisasi ulama dan berbagai isu yang menyeramkan lainnya. Dukungan kekuatan dana yang luar biasa tidak terbatas juga tidak jauh berbeda. Banyak pengamat menduga keduanya didukung oleh kekuatan besar ekonomi di negeri ini.

Perbedaannya Ahok telah terjungkal kalah telak oleh Anis Baswedan, tetapi Jokowi masih menunggu keputusan rakyat #2019gantipresiden atau #2019tetapjokowi. Kesamaan itulah yang membuat Pilkada 2017 sering disebut sebagai miniatur Pilpres 2019. Akankah Jokowi nasibnya tidak jauh berbeda dengan Ahok ? Tampaknya kekalahan Ahok akan jadi pengalaman berharga bagi Jokowi. Mungkin kekuatan dukungan rakyat pemilih tidak tergantung elit politik, parpol, kekuatan besar yang misterius dan dukungan dana yang hebat. Kebangkitan dan kebersatuan umat yang tidak pernah diduga siapapun ternyata bias  memporakporandakan hasil survey dan dukungan

Elektabilitas dan Media Masa

Media cetak dan televisi sebagian besar mendukung Ahok dan Jokowi. Tetapi sebaliknya dalam media social mereka agak kedodoran. Hal itu juga menunjukkan bahwa dalam berbagai survey dari lembaga survey Jokowi Ahok selalu di atas. tetapi saat dilakukan survey oleh media online secara langsung mereka selalu jarang unggul. Bahkan survey yang dilakukan Google belakangan ini menujukkan Jokowi Juga bukan menjadi pilihan utama nitizen.

Tetapi dalam survey yang dilakukan lembaga survey Jokowi dan Ahok seringkali lebih unggul. Setahun sebelum pemungutan suara Elektabilitas bakal calon petahana Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama pada Pilkada DKI 2017 dan calom petahana Pesiden Indonesia Jokowi mempunyai elektabilitas sangat tinggi sekitar 35%-51,2%. Pesa politik para pelaku Survey itu juga tidak berbeda bahkan dengan bahasa yang sama dengan mengatakan belum ada figur potensial yang mampu menyaingi elektabilitas Ahok dan Jokowi pada saat yang sama. Pesan Survey itu mengatakan belum ada figur potensial yang mampu menyaingi elektabilitas Ahok. “Elektabilitas Ahok tetap menduduki peringkat pertama dan tidak ada calon potensial untuk mengalahkannya,” kata pengamat politik dari Populi Center saat menyampaikan hasil surveinya, Usep S Ahyar, di kantor Populi Center, Slipi, Jakarta Barat, Kamis (23/6/2016). Beberapa figur yang masuk dalam survei dan elektabilitasnya di bawah Ahok adalah Yusril Ihza Mahendra dengan elektabilitas 10,2 persen, Sandiaga Uno dengan elektabilitas 4 persen, Ridwan Kamil dengan elektabilitas 3,5 persen, dan Tri Rismaharini dengan elektabilitas 1,8 persen. Selain itu, ada calon lainnya, seperti Adhyaksa Dault, Fauzi Bowo, Rano Karno, Dede Yusuf, dan Abraham Lunggana yang bila digabungkan elektabilitasnya hanya sebesar 9,5 persen. Bahkan Sandiaga Uno hanya 4% dan Anis belum trjaring. Ada 19,8 persen responden yang menyatakan tidak tahu atau tidak menjawab.

Partai Pendukung

Partai pendukung Ahok saat itu adalah banyak partai besar. Sampai saat inipun Jokowi didukung banyak partai besar dan kecil di antaranya PDIP, NasDem, Hanura, Golkar, PKB, Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Partai Persatuan Pembangunan, Perindo, serta Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI). Meskipun PKB belum resmi mendukung tetapi sudah mulai mengkapanyekan Joim, Jokowi-Imin.

Meski Ahok didukung banyak partai besar seperti PDIP, Partai Golkar, Nasdem, Hanura, PKB, PPP, dan PKPI.  dan juga didukung para elit ormas seperti PB NU ternyata tidak linear dengan suara akar rumput. Justru suara akar rumput dari parpol dan NU ternyata menunjukkan hal yang berbeda. Hal inilah yang menunjukkan bahwa meski mesin partai yang digadang gadang parpol besar itu ternyata tidak mampu merobohkan keperkasaan Anis yang didukung mayoritas umat di Jakarta. Beberapa survey menunjukkan bahwa meski elit parpol besar mendukung Ahok ternyata akar rumput partai berbeda pilihan. Akankah hal ini akan dialami oleh Jokowi saat Pilpres 2019.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s