Blunder Jokowi Paling Kontroversial, Pisahkan Politik dan Agama

wp-1523404733853..jpg

wp-1524041980054..jpgPresiden Joko Widodo saat meresmikan Tugu Titik Nol Peradaban Islam Nusantara di Kecamatan Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Jumat (24/3/2017), seperti dikutip Antara meminta semua pihak agar memisahkan persoalan politik dan agama. Beberapa hari setelah itu Ketua Majelis Ulama Indonesia Ma’ruf Amin justru mengkritisi blunder yang dilakukan Jokowi dengan mengatakan sebaliknya, politik dan agama tak bisa dipisahkan. Agama dan politik menurutnya justru bisa saling menopang. Ia mencontohkan upaya islam moderat seperti PBNU menyelesaikan soal Islam dan Pancasila serta hubungan antara Muslim dan non-Muslim. “Itu semua diberi landasan-landasan keagamaan. Sebenarnya antara politik dan agama saling menopang,” kata Ma’ruf seperti yang dilansir usai bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan, seperti dilansir kompas Kamis (30/3).

Ternyata pendapat Jokowi yang mengingatkan rakyatnya agar memisahkan Politik dan Agama itu meicu kontroversi yang luas oleh tokoh masyarakat dan para ulama. Berbeda dengan para ulama dan tohoh masyarakat lainnya yang menentang tetapi justru Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj mendukung Jokowi dengan berpendapat bahwa politik dan agama memang harus dipisahkan. Menurutnya, jika agama dan politik dicampur adukan akan terjadi gesekan. “Pokoknya pendapat saya dari dulu itu, politik kalau dicampurkan dengan agama akan galak, akan radikal, akan mudah mengkafirkan, akan mudah mengganggap oposan menjadi kafir,” kata Said, Selasa (28/3/2017). Lebih tegas lagi Said menekankan bahwa agama tidak ada dalam politik. Akan tetapi, Said berdalih bahwa pernyatan itu merupakan pendapat pribadinya, bukan pendapat NU. Secara tegas dia menambahkan bahwa tidak ada agama dalam politik dan tidak ada politik dalam agama. “Itu pendapat saya,” ujarnya. Tampaknya ketua PB NU itu juga tidak mengatasnamakan NU karena mungkin saja banyak ulama NU tidak sependapat dengan ketua PB NU tersebut.

Setelah menyadari melakukan blunder yang memicu kritik dan sanggahan dari berbagai tokoh masyarakat dan ulama beberapa minggu berikutnya Jokowi mengkoreksi pendapatnya. Pendapat berikut ini tampaknya berbanding 360 derajat dengan pendapat sebelumnya. Jokowi  meluruskan kesalahannya dengan mengatakan agar politik dan agama disambungkan dalam konteks yang benar, bukan dipisahkan sama sekali. “Jadi memang politik dan agama harus disambungkan dalam konteks yang benar,” kata Presiden Jokowi saat meresmikan Masjid dan Gedung Singo Ludiro di Sukoharjo, Sabtu (8/4/2017). “Kalau kebijakan dilandasi spiritualitas, moralitas, nilai-nilai pengabdian dan nilai-nilai lain yang diajarkan agama Islam ya itulah sambungnya politik dan agama,” imbuh Jokowi.wp-1523044686928..jpg

Agama dan Politik

Saat mendekati hajatan politik pilpres dan Pilkada, suara masyarakat umat muslim selalu menjadi incaran parpol dan para politikus. Fenomena inilah ternyata yang mendasari perpecahan dan pertentangan yang luas di antara sesama umat muslim dan antar umat beragama lainnya. Hal ini diperparah dengan adanya paham yang berkembang dipelopori oleh tokoh Islam berpaham pluralisme, liberalisme, dan sekulerisme agama. Berkembangnya paham pluralisme, liberalisme, dan sekulerisme agama dikalangan masyarakat telah menimbulkan keresahan di tengah pertarungan politik yang memperebutkan suara muslim.

Paham paham tersebut saat ini dipakai senjata untuk meredam kebangkitan dan kebersatuan umat muslim yang akan berpartisipasi di dalam bidang politik. Biasanya paham sekularisme itu dikembangkan oleh para tokoh Islam Indonesia yang berpaham Islam Liberal. Melihat dampak yang buruk bagi umat muslim Indonesia tersebut maka sebagian masyarakat meminta MUI untuk menetapkan fatwa tentang masalah tersebut.

Pada tahun 2005 MUI memandang perlu menetapkan fatwa tentang paham sekulerisme, liberalisme dan pluralisme agama tersebut adalah haram untuk dijadikan pedoman oleh umat Islam. Untuk memutuskan bahwa paham liberal, sekuler dan pluralisme haram berdasarkan dalil Quran dan Hadits.

Sebagian besar anak bangsa tentu akan sepakat bahwa berdasarkan Pancasila Indonesia bukan bangsa sekuler karena Indonesia adalah bangsa yang religius. Negara sekuler salah satunya dideskripsikan sebagai negara yang mencegah agama ikut campur dalam masalah pemerintahan, dan mencegah agama menguasai pemerintahan atau kekuatan politik. MUI memandang telah menetapkan paham sekulerisme agama adalah haram untuk dijadikan pedoman oleh umat Islam.

Sehingga karena diharamkan maka justru agama wajib tidak dipisahkan dengan politik dan pemerintahan. Agama dan politik tidak bisa dipisahkan karena sama-sama mengatur kehidupan seluruh umat bangsa Indonesia. Agama seharusnya wajib digunakan sebagai dasar dalam kehidupan berpolitik.

Agama hadir untuk mengatur urusan dan hubungan sesama manusia atau banyak orang. Tidak mungkin di tengah-tengah umat yang sangat agamis ini dalam berpolitiknya tidak menggunakan nilai agama. Agama pasti melandasi dan mendasarinya. Tetapi langkah politik termasuk dalam melakukan aktifitas demokrasi dalam pemberian suara dalam Pilkada dan Pilpres harus sesuai dengan tuntunan dan perintah agama. Kepentingan politik adalah kehidupan dunia sesaat atau pragmatis. Tetapi kepentingan agama adalah untuk kehidupan dunia dan akhirat nantinya.

wp-1523044147195..jpg

Pendapat para Ulama

  • Prof DR Amien Rais dalam tausiyah usai mengikuti Gerakan Indonesia Salat Subuh berjemaah di Masjid Baiturrahim, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Jumat (13/4) pagi. Dalam tausiyahnya Amien selain mengingatkan partai Allah yang mengehebohkan dunia politik itu. Ternyata juga mengkritik pernyataan Presiden Jokowi di Sibolga, Sumatera Utara soal pemisahan agama dari politik. “Ini presiden yang ilmunya pas-pasan… Sehingga kemudian memang untuk merekonstruksi bangsa kita ini, harus mulai dari rekonstruksi pimpinannya,” kata Amin seperti yang dilansir CNN Jumat, 13/04/2018 17:18 WIB  Usai tausiyah, Amien menerangkan ada fakta gerakan ‘Ganti Presiden tahun 2019’ menyebar di Indonesia. Ia mengklaim dari kelas bawah, menengah, guru, hingga pegawai telah terpapar itu. “Terjadi karena Allah menghendaki, sebagai orang beragama yakin bahwa kekuasaan sepenuhnya di tangan Allah,” kata Amien. “Allah memberikan kekuasaan bagi siapapun yang dikehendaki, akan mencabut kembali dari siapapun yang dikehendaki. Saya tidak boleh mendahului takdir Allah, tapi prediksi boleh. Memang pamor pak Jokowi secara sistematik merosot terus,” Amien melanjutkan
  • Ketua Majelis Ulama Indonesia Ma’ruf Amin justru mengkritisi blinder yang dilakukan Jokowi dengan mengatakan sebaliknya, politik dan agama tak bisa dipisahkan. Agama dan politik menurutnya justru bisa saling menopang. Ia mencontohkan upaya islam moderat seperti PBNU menyelesaikan soal Islam dan Pancasila serta hubungan antara Muslim dan non-Muslim. “Itu semua diberi landasan-landasan keagamaan. Sebenarnya antara politik dan agama saling menopang,” kata Ma’ruf seperti yang dilansir usai bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan, seperti dilansir kompas Kamis (30/3).
  • Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Zainut Tauhid Sa’adi, jika yang dimaksud adalah soal politik praktis. Bukan politik etis atau nilai. “Kalau yang beliau maksudkan adalah politik praktis, saya bisa memahami. Karena politik praktis itu berorientasi hanya pada kekuasaan semata,” kata Zainut seperti yang dilansir  Republika.co.id, Selasa (28/3). Zainut mengungkapkan, politik praktis yang sering diwarnai dengan intrik, fitnah, dan adu domba untuk mencapai satu tujuan politik, memang harus dipisahkan dari agama. Karena, menurut Zainut, agama hanya sekedar dijadikan sebagai alat propaganda atau hanya untuk memengaruhi massa.  Menurut Zainut, kalau politik etis memang seharusnya semua kegiatan politik itu didasarkan pada nilai agama. Jika politik tidak didasarkan pada nilai agama yang terjadi adalah liar, membahayakan. “Politik tidak berdasarkan pada agama akan membuat manusia menjadi serigala bagi manusia lainnya,” ujar Zainut. Ia menekankan, di sinilah perlunya ada nilai agama yang memandu agar kehidupan politik bisa berjalan dengan aman dan damai. Lebih lanjut, Zainut mengatakan, Indonesia adalah negara pancasila yang mengandung nilai-nilai luhur sebagai dasar bagi pembangunan politik, yang semuanya tidak bertentangan dengan agama. “Yaitu nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, permusyawaratan, dan keadilan,” kata Zainut. Zainut menegaskan, Indonesia bukanlah negara sekuler yang memisahkan antara kehidupan negara dan agama. Indonesia sebagai negara pancasila, menempatkan agama sebagai sumber nilai dan inspirasi bagi kehidupan bangsa dan bernegara.
  • Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy (Romi) menegaskan bahwa agama dan kekuasaan atau politik tidak dapat dipisahkan. Menurutnya, saat ini mulai bangkit gerakan menghilangkan agama dari politik merujuk kepada peryataan Presiden Jokowi bahwa agama dan politik jangan dicampuradukkan. “Agama dan politik ibarat saudara kembar. Dimana agama adalah landasan atau pondasi dan kekuasaan adalah penjaga agama,” kata Romi. Menurutnya, jika agama tidak dijaga oleh politik maka kemungkinan besar akan hilang, asing atau akan dicuri oleh kelompok anti agama. Sementara politik yang tidak dilandasi agama, akan berjalan tersesat dan hanya maju di urusan keduniaan. “Gerakan untuk menghilangkan agama dari politik, perlahan-lahan mulai bangkit lagi di Indonesia,” ujarnya. Menurut Romi, agama tidak pernah mengajarkan kejelekan, sehingga tidak sepantasnya untuk dijauhi. Dia juga mengatakan bahwa pemimpin yang tidak memiliki bekal ilmu agama, akan tersesat dalam menjalankan perpolitikan. “Sampai-sampai ada yang mengatakan, jangan bawa-bawa agama dalam politik. Saya ingin mengatakan, ini terjadi karena terbatasnya pemahaman tentang agama,” ujarnya menegaskan

wp-1523404934204..jpg

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s