Resensi Humor Rakyat: Gubenur Rasa Presiden, Presiden Rasa Lurah

Resensi Humor Rakyat: Gubenur Rasa Presiden, Presiden Rasa Lurah

Bila mencermati media sosial, saat ini humor yang dilemparkan rakyat atau nitizien cukup menarik tapi menghebohkan. Sarkasme yang diungkapkan rakyat bisa jadi banyak yang terhibur atau sebaliknya banyak yang tersinggung. Bermula kisah seorang gubernur dan seorang presiden dari sebuah negeri antah barantah yang selalu menjadi inspirasi di jagad media sosial. Kisah inspiratif itu bisa menginspirasi otak tapi juga bisa menggelikan perut dan menyakitkan hati. Apalagi saat berbagai foto viral beredar dan mengundang berbagai komentar nitizen yang lebih kocak tapi lebih pedas dari foto itu sendiri. Seperti biasa foto dan komentar itu menimbulkan dua kutub, satu memuji yang lain menghujat. Itulah menariknya dan lucunya demokrasi. Humor rakyat itu bila dinikmati dengan bijak bisa jadi pelajaran hidup. Tapi bila bila didengar dengan kecemburuan maka bisa jadi humor yang menyakitkan hati. Saat foto dan komentar itu menyinggung pejabat nomer saru negeri maka para intel negeri itu pasti sibuk memburu dan mempermasalahkan apakah humor rakyat itu fakta atau hoax ?

Resensi Humor Rakyat

Kisah unik humor rakyat itu dimulai saat seorang gubernur dikisahkan mengunjungi tokoh terbesar umat muslim dunia dan diterima layaknya seperti pejabat utama pemimpin sebuah negeri. Tetapi secara bersamaan di bawah foto itu di munculkan foto tokoh lainnya. Foto saat seorang pemimpin sebuah negeri antah barantah lainnya sedang sibuk mengatur ratusan kantong plastik sembako untuk disedekahkan rakyatnya yang belum tentu miskin. Ketika begitu foto itu disandingkan maka bagi banyak komentar nitizen yang inspiratif untuk otak, menggelikan untuk perut dan menyakitkan untuk hati. Sehingga komentar nakal dan kocakpun tersurat, rakyat atau nitizen berkomentar : “Gubernur Rasa Presiden, Presiden Rasa Lurah”.

Uniknya asal usul kantong plastik itu juga diungkapkan oleh nitizen bahwa telah ditenderkan instansi negeri sebesar beberapa milyar. Para punggawa negeripun sibuk membantah ramai ramai bahwa itu bukan BLT yang selama ini ditolaknya. Bantuan itu dianggap zakat dan sedekah untuk rakyat. Tapi justru hal itu menimbulkan komentar kritis dan kocak lainnya dari nitizenpun bermunculan. Salah satunya yang menggelitik, ” Kalau sedekah dengan uang rakyat atas nama pribadi. Tapi kalau utang atas nama rakyat”. Humor dan sarkasme kritis itu menjadi kompleks ketika harus didefinisikan itu fakta atau fiksi

Saat jargon “Gubernur Rasa Presiden, Presiden Rasa Lurah” yang dilemparkan nitizen itu menjadi viral maka mulai bermunculan berbagai foto lainnya. Seperti foto seorang gubernur ceramah ilmiah di sebuah universitas negeri di negara timur dan di depan guru besar dan mahasiswanya disanding dengan seorang tokoh negeri antah barantah yang bagi bagi sepeda. Begitu juga foto seorang gubernur yang hendak berangkat ke Amerika diundang ceramah ilmiah di sebuah universitas ternama disandingkan dengan foto hobi seorang pemimpin besar yang sedang bagi bagi kartu ke rakyatnya. Atau disandingkan dengan foto pemimpin yang hobi lainnya juga bagi bagi sertifikat ke rakyatnya.

Saat menganggap ” Gubernur Rasa Presiden” , meskipun ditanggapi sinis banyak orang tetapi tampaknya nitizen beralasan. Meski hanya gubernur tetapi karena berkarisma dunia dan berberkaliber internasional ternyata bisa diterima dunia dianggap sebagai pemimpin nasional.

Sebaliknya para nitizen di negeri antah barantah yang berkomentar miring dianggap norak oleh para pendukung penguasa. Nitizien itu menggelari pemimpinnya dengan ungkapan Presiden Rasa Lurah akhirnya menuai banyak hujatan. Meskipun dianggap berlebihan, tetapi nitizien juga mempunyai alasan tersendiri. Karena kebiasaan bagi bagi sembako, bagi bagi kartu bagi rakyat dan bagi bagi sertifikat tanah bukan tugas level pejabat tinggi. Seorang pejabat tinggi yang berkualifikasi nasional seharusnya cukup memberikan ide besarnya dan mendelegasikannya kepada camat atau lurah untuk membagi bagikan sedekah, bagi kartu atau sertifikat itu.

Jargon “Gubernur Rasa Presiden, Presiden Rasa Lurah” itupun dengan cepat menyebar ke seluruh gadget yang dipegang umat si negeri itu. Apalagi negeri itu sedang mengalami eforia demokrasi dan dirundung perpecahan antar kelompok yang panasnya masuk level 10. Kalau diumpamakan sambal, maka suasana kebencian dan kecurigaan negeri itu sangat pedas sekali. Di negeri demokrasi itu ternyata kata mutiara bisa berubah jadi pedas dan dianggap fitnah. Kata bijakpun bisa berubah jadi panas dan dianggap ujaran kebencian. Bagi kelompok tertentu humor rakyat itu menjadi inspirasi dan menghibur. Tetapi bagi kelompok lain humor rakyat itu bisa saja dianggap hate speech atau fitnah.

Humor rakyat itu tampaknya adalah komunikasi sosial dalam bentuk perasaan rakyat dalam menilai pemimpinnya. Humor rakyat itu harus disikapi bijaksana mungkin juga sebuah aspirasi rakyat sehingga ada nilai kehidupan positif yang dapat dijadikan pembelajaran hidup sejarah bangsa.

Jadi fenomena itu bagi orang bijak dan orang cerdas seharusnya bukan dijadikan sebagai fitnah dan omong kosong tetapi bisa dijadikan inspirasi. Inspirasi ulama kondang Indonesia seperti Abdullah Gymnastiarpun dapat dijadikan referensi. Pesan itu adalah “Jadikanlah setiap kritik bahkan penghinaan yang kita terima sebagai jalan untuk memperbaiki diri”. Sepahit apapun kritik itu bila didengar dengan arif akan menjadi obat untuk mengangkat penyakit sifat buruk manusia.

Inspirasi positif lainnya adalah pemimpin hebat yang dihargai dunia, tidak perlu seorang pejabat tertinggi sebuah negeri. Karena pejabat lokal dengan kemampuan internasional juga bisa bercita rasa pemimpin nasional. Tetapi saat jadi pemimpin pusat negeri juga jangan sering melangkah seperti pejabat lokal. Karena akan dianggap rakyat pejabat lokal. Saat peran positif itu diteruskan, maka pemimpin lokal bergaya internasional itu bisa jadi akan menggeser pemimpin nasional yang bergaya lokal.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s