Snouck Hurgronje: Berpura pura Muslim, Lemahkan Islam Indonesia

wp-1523044686928..jpgSnouck Hurgronje: Berpura pura Muslim, Lemahkan Islam Indonesia

Pada masanya ia adalah seorang orientalis terkenal di dunia. Ia telah melakukan perjalanan ke Mekah, mempelajari dan mendokumentasikan kehidupan Muslim di sana. Selama bertahun-tahun ia tinggal dan bekerja di tengah orang-orang Muslim di Indonesia, membuatnya menjadi ahli dalam tradisi, bahasa dan agama dari berbagai suku di Indonesia. Kepada rakyat dan pemerintah di Barat dia selalu menampilkan dirinya sebagai ilmuwan. Dan sebagai ilmuwan ia menasehati berbagai pemerintahan Barat mengenai “urusan kaum Muslimin”. Pada saat yang sama dia menampilkan dirinya sebagai seorang Muslim yang tulus—bukan sebagai ilmuwan—kepada orang-orang di dunia Muslim tempat dia tinggal dan belajar. Kepada mereka, ia memperkenalkan diri dengan nama “Abdul Ghaffaar”. Sebagai seorang cendekiawan Islam, dia bahkan menasihati kaum Muslimin mengenai urusan agama dan politik. Karena ia memainkan peran ganda sepanjang hidupnya, hari ini, baik di Barat maupun di dunia Muslim, dia sangat dihormati oleh beberapa orang, namun dibenci di sebagian yang lain.

Snouck Hurgronje

Christiaan Snouck Hurgronje adalah seorang sarjana Belanda budaya Oriental dan bahasa serta Penasehat Urusan Pribumi untuk pemerintah kolonial Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Lahir di Oosterhout pada tahun 1857, ia menjadi mahasiswa teologi di Universitas Leiden pada tahun 1874. Ia menerima gelar doktor di Leiden pada tahun 1880 dengan disertasinya ‘Het Mekkaansche feest’ (“Perayaan Mekah”). Ia menjadi profesor di Sekolah Pegawai Kolonial Sipil Leiden pada 1881.

Snouck, yang fasih berbahasa Arab, melalui mediasi dengan gubernur Ottoman di Jeddah, menjalani pemeriksaan oleh delegasi ulama dari Mekkah pada tahun 1884 sebelum masuk. Setelah berhasil menyelesaikan pemeriksaan diizinkan untuk memulai ziarah ke kota suci muslim Mekkah pada 1885. Di Mekkah, keramahannya dan naluri intelektualnya membuat para ulama tak segan membimbingnya. Dia adalah salah satu sarjana budaya Oriental Barat pertama yang melakukannya.

Sebagai wisatawan perintis, ia adalah orang langka asal Barat yang berada di Mekkah, tetapi memeluk budaya dan agama dengan penuh gairah sehingga ia berhasil membuat kesan kepada orang-orang bahwa ia masuk Islam. Dia mengaku berpura-pura menjadi Muslim (hipokrit) seperti yang ia jelaskan dalam surat yang dikirim ke teman kuliahnya, Carl Bezold pada 18 Februari 1886 yang kini diarsipkan di Perpustakaan Universitas Heidelberg.

Pada tahun 1889 ia menjadi profesor Melayu di Universitas Leiden dan penasehat resmi kepada pemerintah Belanda untuk urusan kolonial. Dia menulis lebih dari 1.400 makalah tentang situasi di Aceh dan posisi Islam di Hindia Belanda, serta pada layanan sipil kolonial dan nasionalisme.

Sebagai penasehat J.B. van Heutsz, ia mengambil peran aktif dalam bagian akhir (1898-1905) Perang Aceh (1873-1913). Dia menggunakan pengetahuannya tentang budaya Islam untuk merancang strategi yang secara signifikan membantu menghancurkan perlawanan dari penduduk Aceh dan memberlakukan kekuasaan kolonial Belanda pada mereka, mengakhiri perang 40 tahun dengan perkiraan korban sekitar 50.000 dan 100.000 penduduk tewas dan sekitar satu juta terluka.

Kesuksesannya dalam Perang Aceh membuatnya mendapatkan pengaruh dalam membentuk kebijakan pemerintahan kolonial sepanjang sisa keberadannya di Hindia Belanda, namun seiring dengan sarannya yang kurang diimplementasikan, ia memutuskan kembali ke Belanda pada 1906 Kembali di Belanda Snouck melanjutkan karier akademis yang sukses..

Setelah menyelesaikan sekolah menengah di kota Breda, pada tahun 1874, Christiaan Snouck Hurgronje pindah ke Leiden untuk belajar teologi. Ia ingin menjadi seorang pengkhotbah di gereja Protestan, mengikuti ayah dan kakeknya. Pada tahun 1878 ia menyelesaikan pendidikan universitasnya dalam bidang teologi, namun saat itu dia tidak lagi percaya pada dogma kekristenan. Ia memulai sebuah studi bahasa Semit, yang mengkhususkan diri dalam bahasa Arab dan Islam. Untuk doktoralnya, ia melakukan penelitian tentang haji kaum muslimin.

Snouck pergi ke Jerman untuk belajar secara pribadi dengan orientalis paling terkenal di dunia saat itu, Theodoor Nöldeke. Setelah itu, Snouck memulai karirnya sendiri di dunia Orientalisme.

Snouck adalah teman dekat orientalis terkenal lainnya pada masanya, Ignac Goldziher (1850 – 1921). Goldziher adalah seorang Hongaria keturunan Yahudi yang juga pernah belajar di Leiden. Pada tahun 1873 Goldziher diberi beasiswa oleh pemerintah Hungaria untuk melakukan perjalanan ke Syam (sekarang Palestina, Suriah, Lebanon dan Yordania) dan Mesir.

Perjalanan tersebut membuat Goldziher menjadi orang non-Muslim pertama yang belajar Islam di Al Azhar, Kairo. Goldziher akhirnya menulis sebuah buku tentang pengalamannya, yang membuatnya menjadi orientalis terkenal di dunia. Snouck berambisi untuk mencapai posisi yang sama di bidang Orientalisme. Snouck saat di Jeddah, bertugas untuk mematai-matai dan mencatat aktivitas haji terutama dari Indonesia

Snouck Hurgronje sebagai Penasihat Politik

  • Snouck hidup pada masa kolonialisme. Belanda adalah penguasa kolonial atas Indonesia, dan oleh karena itu surat kabar Belanda secara teratur melaporkan kejadian di Hindia Belanda. Surat kabar Belanda secara teratur memuat pendapat yang membahas masalah yang dihadapi Belanda di koloni mereka, dan mengusulkan solusi atas masalah tersebut.
  • Masalah utama bagi Belanda di Indonesia adalah perlawanan masyarakat setempat terhadap pemerintahan Hindia Belanda. Sebagian besar perlawanan tersebut terinspirasi oleh Islam. Banyak orang Indonesia bertempur karena mereka melihat diri mereka sebagai warga Khilafah yang tanahnya telah diduduki oleh orang asing. Kasus semacam ini terjadi terutama di Aceh. Akibatnya, Belanda mendapati dirinya mengalami kebuntuan dalam waktu lama, dalam sebuah perang panjang dan melelahkan, dengan biaya yang sangat mahal.
  • Masalah utama bagi Belanda di Indonesia adalah perlawanan masyarakat setempat terhadap pemerintahan Hindia Belanda. Sebagian besar perlawanan tersebut terinspirasi oleh Islam.
  • Snouck menyadari, bahwa ia memiliki kemampuan untuk memainkan peran penting dalam masalah ini. Sejak awal karirnya sebagai seorang orientalis ia melakukan yang terbaik untuk memainkan peran ini. Misalnya dalam buku yang ia tulis untuk disertasinya, “Perayaan Mekah (De Mekkaansche feesten)”, dia menulis saran untuk pemerintah Belanda: “Jika di Hindia Belanda ada jamaah haji yang memberikan pengaruh buruk terhadap orang lokal [Indonesia], maka ia harus dihukum sekeras mungkin, juga dengan tujuan untuk mengurangi jumlah orang yang pergi haji.”
  • Snouck diutus ke Mekah oleh pemerintah Belanda untuk menjadi mata-mata yang dapat memberikan informasi tentang orang-orang Indonesia di Mekah. Bukan suatu kebetulan, oleh karena itu, bahwa rumah di Jeddah yang menjadi tempat tinggal Snouck bersama Raden Aboe Bakr berada persis di seberang rumah seorang bangsawan terkemuka Aceh, yang digunakan sebagai penginapan oleh banyak jamaah haji asal Aceh. Dari rumah mereka, Snouck dan Raden Aboe Bakr bisa melacak siapa saja yang masuk atau meninggalkan penginapan tersebut.
  • Dalam bukunya yang menceritakan saat ia di Mekah, Snouck juga memberi nasehat kepada pemerintah Belanda mengenai Indonesia. Ia mengatakan bahwa pemerintah kolonial harus mengawasi para jamaah haji yang kembali ke Indonesia dan mencoba untuk mendapatkan simpati mereka. Jika upaya untuk mewujudkan hal ini tidak berhasil, kata Snouck selanjutnya, maka pemerintah Belanda harus menetralisir jamaah haji tersebut.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s